Minggu, 23 Agustus 2015

Kamu, ngalamin ini juga?

Semua orang rasanya pernah mengalami ini, tapi kemungkinan yang terbesar adalah perempuan, korban utamanya.

Kalo kata tulus, kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama, tak pernah bersatu. Pasangan itu beda, tapi pasti cocok. Keberbedaan itulah yang akhirnya mempersatukan. Kaya kutub magnet, yang beda yang nyatuin.

Tapi ada juga yang beda tapi gak mempersatukan, contohnya sepatu kanan ukuran 39, sepatu kiri ukuran 38. Itu gak mempersatukan. Mau bagaimanapun caranya. Kecuali Allah dengan kuasaNya.

Sering, ketika kita udah menemukan yang cocok yang pas, eh gataunya dia ilang. Kaya ditelen bumi gitu. Rasanya tuh ya.....ampun deh. Kaya kaos kaki yang abis dicuci eh pas dilipet tinggal sebelah T.T

Iya, tulisan ini terilhami dari barang2 saya yang tinggal sebelah. Kenapa ya? Padahal sebelum sebelumnya damai aja. Berbulan bulan make, eh ilang. Ada yang ilangnya sebelah, ada yang ilangnya sepasang. Padahal saya bukan anak kost, bukan juga yang ngontrak terus satu jemuran rame rame.

Ada misteri dari hilangnya barang barang itu. Sampai detik ini masih juga belom bisa terbongkar. Namun, penyebabnya sedikit banyak bisa ditafsirkan. Kalo nyuci baju punya sendiri, gak rame rame sama baju yang lain, biasanya barang gak ada yang ilang. Kalo udah digabung jadi satu, punya ibu, ayah, kakak, adek, pasti ada yang ilang. Dan ini kejadian ke kita semua. Ayah yang nanya kaos kakinya kemana, ibu yang nanya kaos kaki, saya yang nanya manset kemana. Pusing deh.

Misteri kaos kaki ini sampe sekarang masih belom terpecahkan, karena kita gapunya kolong yang bisa terjamahi oleh para barang barang itu.
Entahlah dia dimana. Saya harap mereka balik.

Kamu ngalamin ini juga?

Kamis, 20 Agustus 2015

Aku masih boleh kan?

Memang, caramu dari dulu yang selalu begitu. Rasanya kepalaku mau meledak ketika melihat emosi mu meluap. Mungkin harus ada beberapa gelas yang pecah, agar keheningan bisa tercipta. Atau mungkin aku yang harus berteriak keras, lalu lari ke kamar mandi dan menyalakan keran. Membiarkan derasnya air menemani setiap tetes air mata dan meredamkan suara tangis ku yang pecah tak tertahankan.

Caramu berbahasa selalu salah. Tak pernah perhatikan bagian terkecil di dalam hati yang diam diam tertusuk.
Setiap yang ku lakukan pun selalu salah. Tak ada benarnya walau hanya setitik.

Entah kapan terakhir kita tertawa bersama.
Menuangkan teh ke cangkir mu, lalu membahas hari hari kita yang panjang.
Entah kapan terakhir kita tertawa bersama.
Duduk sambil menatap langit, menghabiskan es krim hingga tetes terakhir.

Tak tau kenapa, kini es krim menambah dingin suasana di rumah. Bercangkir cangkir teh pun gagal menghangatkan suasana. Hingga akhirnya, aku lelah berteman dengan cangkir. Mereka kini tinggal menunggu giliran terbanting dan pecah.

Dulu aku diam, bahasa ku hanya tangisan. Dan senyum mu adalah akhir dari penderitaan.
Tapi sejak saat itu, saat kau melakukan kesalahan terbesarmu, aku tak lagi bisa diam.

Walau air mata terus ada, aku juga bisa berbahasa, dengan kata kata yang keluar dari lisan. Aku belajar menyampaikan perasaan. Aku tak lagi bisa sekedar diam.

Ditengah deraian air mata, aku masih boleh kan mengatakan kalau kita baik baik saja?

Aku masih sanggup menanggapi ego mu. Aku masih bisa meladeni kesalmu. Aku masih siap menjalani hari yang tak lagi seindah dulu.

Mungkin nanti, saat air mata tak lagi ada. Saat senyum tak lagi tercipta. Saat lisan tak mampu lagi mengeluarkan kata. Saat itulah, aku menyerah.
Diam, tak peduli. Hingga akhirnya, kita sama sama menemui akhir dan memulai awal.

Tapi.. Ditengah deraian air mata, aku masih boleh kan mengatakan kalau kita baik baik saja?

Rabu, 19 Agustus 2015

Behind the scenes of marriage

Siapa yang ngira ternyata di akhir liburan malah undangan walimah berdatangan. Ada yang sehari 3, ada yang dua hari berturut turut. Ada juga undangan dari luar kota. Wihhh, panen.

Emang, dari tahun sebelumnya juga udah dikasih tau, kalo bulan syawal pasti rame undangan. Kalo tahun sebelumnya cuma dapet dari temen2 luar kota, sekarang dapet dari tetangga sebelah, ada juga yang dari temen seangkatan.

Ternyata nikah itu.... Gatau ya kaya gimana, cuma bantu bantu yang mau nikah itu rasanya juga luar biasa. Walaupun hanya selevel ngupasin kentang.

Ada juga yang bantuin nyebar undangan, eh dikira kita yang mau nikah.  Alhamdulillah, aamiin aja lah, hahaha.
Pas hari H nikahannya, malah ditanyain kapan nyusul. Luar biasa lho.

Tentang nikahan, Beberapa minggu sebelum nikah, nulis undangan, bungkus souvenir, nemenin luluran. Hal hal sepele ini ternyata dikerjainnya pake tangan lho. Kebayang gak, ngundang 1000 orang, nyiapin souvenir 1100, dan semuanya mesti diplastikin. Pake apa mlastikinnya kalo bukan pake tangan?

Saya jadi sadar banget, bahwa selama ini kuraaaaang menghargai pekerjaan kecil macem itu. Kalo bungkus nya jelek, komen ini itu, gak rapi, atau kurang estetikanya, langsung komen. Duh. Padahal ngebungkus itu bukan hal yang menyenangkan loh. Udahnya banyak orang yang ngebuka asal sobek sana sini. Buang sampahnya sembarangan.

Kita mesti sering sering nih ngelakuin hal kecil, supaya banyak bersyukur dan makin menghargai pekerjaan orang sekecil apapun.

Terus bantuin ngupas, bayangin aja berkarung karung kita kupas, begitu udah mateng ada yang ngambil kentang tapi gak dimakan. Seenaknya aja ngebuang. Padahal ngupasnya itu cape. Tangan pada coklat.

Ini teguran buat saya dan kita semua.  Kalo emang gak suka sama makanan, jangan diambil, biarin aja di tempatnya. Rasulullah gitu kan? Gak komen ini itu, tapi ngediemin aja.

Dan lagi, kalo kata ibu saya, ambil aja makanan sedikit, biar gak dibuang buang. Eh. Ini malah ada yang ngambil seenak jidat, terus pas udah kenyang langsung buang seenaknya. Lupa kali ya kalo banyak orang kelaperan diluar sana. Lupa kali ya, buat jadiin itu makanan butuh proses panjang lebar. Mungkin dia juga lupa, betapa lamanya nunggu bibit supaya bisa dipanen.

Mungkin mereka gapernah ngerasain itu semua, makanya kurang menghargai.

Selain kisah di atas, sebenernya ada banyak, banyak banyak banyak banget hal hal yang bisa dijadiin bahan refleksi. Perenungan. Gak cuma tentang nikah nya, tapi perjuangan orang orang di balik layar.

Mungkin kita keenakan karena ada jasa catering. Tapi kita pernah mikir gak si ngeberesin bekas makan orang yang kita tau dia aja engga. Ngeliat batang idungnya aja engga. Eh ini disuruh beresin bekas dia makan. Duh~~~~

Semoga, kita selalu jadi orang orang yang bersyukur dan selalu menghargai hal hal kecil.
Semoga kita diberi rasa peka yang luar biasa hebat agar selalu menghargai.
Semoga kita selalu terjaga dari rasa sombong dan menyia nyiakan.

Setelah mengaamiin kan sama sama, semoga kamu, iya kamu, segera menyusul jadi Raja atau Ratu sehari ~~~

Senin, 17 Agustus 2015

Tentang Negara yang Berdiri Tahun 45

Tentang Negara yang Berdiri Tahun 45

Kekayaan alamnya telah mengundang bangsa lain.
Cengkeh, padi, mutiara, sampai domba.
Rakyatnya?
Kaya, sampai makan pun tak bisa.
Pemudanya?
Hebat, sampai jadi sampah masyarakat.

Jakarta, 24 April 2015.
Disaksikan semesta, langit dan bumi.
Kau hadir disini,
Belajar memperjuangkan hak rakyat,
Belajar meneriakan suara,
Belajar mengingatkan mereka,
Kursi apa yang sedang mereka tempati.

Mei, 1998
Mereka sudah terlalu terlena.
Kursi telah melanakannya.
Terlelap dalam harta,
Tenggelam dalam lautan nikmat.
Didetik yang sama, mereka menangis.
Tak tau harus apa,
Tak tau harus kemana.
Hari ini makan apa,
Masih kah ada setetes air untuk kami.

1974
Mereka teriakan demokrasi,
Mereka ajak kami menusuk wajahnya,
Agar mereka jadi penguasa.
Di detik yang sama, mereka tertawa.
Permainan demokrasi telah berakhir.
Putih menjadi warna favorit kami.

1966
Mereka kaget melihatnya,
Mereka kira kami tak bisa bergerak.
Mereka kira, kami bisa dilenakan dengan orasi
panjang.
Hanya karena kau bapak kami,
Tak berarti kami bonekamu.
Lagi lagi, kami bosan.
Kau kira, kami hanya anak bocah yang sedang
main politik.
Apa kau lupa, kami sendiri belajar darimu tentang
pergerakan.

17 Agustus 1945
Kau ajarkan kami teriak MERDEKA!
Tapi kau tenggelamkan kami dalam lautan
penjajahan.
Penjajahan yang lagi lagi kau kemas dengan
cantik.
Tak lagi bangsa kolonial.
Namun kau, dengan citramu.
Kau duduk disana, mengatur kami.
Citramu adalah kemajuan bangsa demi kemajuan
kami.
Kami bosan.
Tak lagi teriakan merdeka!
Namun, hidup mahasiswa!
Biar kami tunjukan pada kalian,
Kursi iti bukan kursi biasa.
Kursi itu bukan kursi pendusta.

Bogor, 25 April 2015
Tunggu kami, menggeser kursimu.

Tulisan ini dibuat saat SAC, sospol adventure camp. Beberapa jam sebelum tampil pensi, saat yang lain masak untuk makan malam saya malah bikin puisi. Deg degan, karena gatau harus nampilin apa. Dengan modal bismillahirrohmanirrohim, coret sana sini, akhirnya jadi puisi. Temen temen bilang puisinya keren. Cuma entahlah, saya cuma mikirin, kelompok iptek harus maju pensi dan penampilannya harus keren dan berkesan. Latihan beberapa saat, puisi ini dibaca oleh tiga orang. Saya, nadya, yosi. Nadya dua bagian awal, yosi dua bagian tengah,dan saya sisanya.beberapa anggota lainnya yaitu sinta, qory,bayu, dede, hani, mereka nyanyi lagu buruh tani, dari awal sampe akhir. Dan diulang terus hehe.

Kita pun maju.
Dengan dag dig dug, diliatin semua orang. Kita usaha maksimal. Badan saya gemeter pas harus bacain puisi di depan orang orang. Apalagi ini puisi tulisan saya yang dibuat ganyampe setengah jam. Entahlah.

Dengan cahaya lampu seadanya, kita coba kuasai panggung dan lapangan. Kita mainkan ekspresi dan intonasi. Penonton pun berkali kali menganggukan kepala. Entah apa yang mereka pikirkan.

Tibalah bagian saya. Badan makin gemeter. Tapi sebelumnya saya udah baca doa. Dan alhamdulillah lancar. Temen temen yang nyanyi buruh tani pada berhenti. Tapi puisinya masih ada satu bait lagi. Dengan memainkan intonasi lagi, dan dengan gaya yang luar biasa. Saya sampaikan bahwa kita, mahasiswa akan menggeser kalian. Manusia manusia yang numpang duduk di kursi rakyat dan nerima duit. Kaya kamu, iya kamu.

Setelah selesai tampil. Alhamdulillah. Responnya positif. Banyak yang minta tulisannya di upload. Di share. Dan kalo bisa dibawa pas lagi aksi, hehehe.

Tapi balik lagi, tujuan tulisan ini karena saya nengok ke sejarah dan melihat bahwa kita, pemuda, mahasiswa, bener bener jadi tulang punggung akan lurusnya pimpinan yang gak bener. Kita siap turun dan hancurkan semua kedzoliman. Kita bergerak atas nama rakyat. Tapi, kita juga gak serta merta turun tanpa ada analisis dan kajian tentang berbagai isu. Engga. Kita prepare semuanya. Hingga saat ada seruan aksi, kita semua tau bergerak untuk apa dan atas tujuan apa serta berjuang atas suara siapa. Itu kita, mahasiswa. Dengan segala kekurangan dan kelebihan kita.

Mungkin kamu, gak akan paham sampai kamu jadi bagian dari kita. Mungkin kamu punya cara sendiri untuk memajukan negri. Tapi, bagaimana pun itu, teruslah melihat ke bawah. Tengok rakyat kecil yang ditindas. Dan teruslah tengok ke atas, kawal semua orang yang katanya wakil rakyat. Kawal semua sampai hal paling kecil, sampai ke titik terendah, sampai ke rupiah terakhir.

Jangan pernah diam, karena diam adalah pengkhianatan.

Kamis, 13 Agustus 2015

Senja di Pom Bensin

Senja, waktu yang pas untuk berdoa. Katanya, saat pergantian waktu seperti dari malam ke pagi, dan dari sore ke malam, adalah waktu yang pas untuk berdoa. Makanya Allah memerintahkan kita agar berdzikir di waktu pagi dan petang.

وَّ سَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang."
[QS. Al-Ahzab: Ayat 42]

Sebenernya tulisan ini ingin dibuat tadi malam, namun karena jalan jalan yang full dan mata yang mengantuk, akhirnya tertunda sampai detik ini.

Gambar ini diambil di pom bensin, di daerah Sukadana. Perjalanan ke Metro bisa lewat sini. Perjalanan yang panjang memang lagi lagi mengingatkan akan alam yang luas dan hebat. Terlebih lagi Sang Pencipta. Alam yang keren ini, pasti memiliki Pencipta yang lebih keren.

Lampung panas, tanah kering, udara panas, walaupun banyak pohon. Ternyata beberapa hektar sudah menjadi wilayah kebun sawit. Persis dengan kalimantan. Beberapa wilayah lainnya dipenuhi dengan tanaman daun singkong. Tanamannya lemas dan layu. Terlalu panas dan terlalu tak kuat menahan beratnya daun, hingga akhirnya dia tertunduk lesu.

Perbandingan yang salah jika harus membandingkan lampung dengan jakarta. Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur. Sedangkan Lampung kota yang dari jam 18.00 sampai jam 6 pagi, cenderung sepi. Bahkan di depan pom bensin sekalipun, jalanan masih sepi.

Saya belum pernah bertemu pom bensin seindah ini, hehehe.
Antriannya pendek, pelayanan cepat, dan sepi.
Ah, ada lagi. Di Jakarta, pom bensin selalu ditemani mini market seperti alfamart, indomart atau circleK. Tapi disini kosong. Walaupun design bangunan sama persis, namun tetap terlihat kosong.

Pun karena lahan yang cukup luas, tempat wudhu laki laki dan perempuan dipisah. Di toilet ada kamar mandi besar, tiga untuk perempuan dan tiga untuk laki laki.

Di Lampung rasanya damai. Tak penuh dengan hingar bingar. Sekilas, terbersit keingingan untuk tinggal disini. Hanya sekilas.

Tapi dalam perjalanan juga, saudaraku bilang, "disini banyak begal lho mba. Hati hati lewat sini malem malem. Lampung Timur itu orangnya galak galak. Bilang aja mba dari Lampung Timur, pada takut nanti orang orang."

Hai, saya orang Lampung Timur :D

Senja di Pom Bensin

Senja, waktu yang pas untuk berdoa. Katanya, saat pergantian waktu seperti dari malam ke pagi, dan dari sore ke malam, adalah waktu yang pas untuk berdoa. Makanya Allah memerintahkan kita agar berdzikir di waktu pagi dan petang.

وَّ سَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang."
[QS. Al-Ahzab: Ayat 42]

Sebenernya tulisan ini ingin dibuat tadi malam, namun karena jalan jalan yang full dan mata yang mengantuk, akhirnya tertunda sampai detik ini.

Gambar ini diambil di pom bensin, di daerah Sukadana. Perjalanan ke Metro bisa lewat sini. Perjalanan yang panjang memang lagi lagi mengingatkan akan alam yang luas dan hebat. Terlebih lagi Sang Pencipta. Alam yang keren ini, pasti memiliki Pencipta yang lebih keren.

Lampung panas, tanah kering, udara panas, walaupun banyak pohon. Ternyata beberapa hektar sudah menjadi wilayah kebun sawit. Persis dengan kalimantan. Beberapa wilayah lainnya dipenuhi dengan tanaman daun singkong. Tanamannya lemas dan layu. Terlalu panas dan terlalu tak kuat menahan beratnya daun, hingga akhirnya dia tertunduk lesu.

Perbandingan yang salah jika harus membandingkan lampung dengan jakarta. Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur. Sedangkan Lampung kota yang dari jam 18.00 sampai jam 6 pagi, cenderung sepi. Bahkan di depan pom bensin sekalipun, jalanan masih sepi.

Saya belum pernah bertemu pom bensin seindah ini, hehehe.
Antriannya pendek, pelayanan cepat, dan sepi.
Ah, ada lagi. Di Jakarta, pom bensin selalu ditemani mini market seperti alfamart, indomart atau circleK. Tapi disini kosong. Walaupun design bangunan sama persis, namun tetap terlihat kosong.

Pun karena lahan yang cukup luas, tempat wudhu laki laki dan perempuan dipisah. Di toilet ada kamar mandi besar, tiga untuk perempuan dan tiga untuk laki laki.

Di Lampung rasanya damai. Tak penuh dengan hingar bingar. Sekilas, terbersit keingingan untuk tinggal disini. Hanya sekilas.

Tapi dalam perjalanan juga, saudaraku bilang, "disini banyak begal lho mba. Hati hati lewat sini malem malem. Lampung Timur itu orangnya galak galak. Bilang aja mba dari Lampung Timur, pada takut nanti orang orang."

Hai, saya orang Lampung Timur :D

Selasa, 11 Agustus 2015

Jalan jalan dan kekerenan

هُوَ الَّذِىْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِىْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖ‌ؕ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."
[QS. Al-Mulk: Ayat 15]

Untuk orang orang yang jarang jalan jalan kaya saya, berkesempatan melakukan perjalanan pasti sangat sangat sangat dimanfaatkan dengan baik. Percaya deh, karena satu dan lain hal, Allah nyuruh kita buat jalan jalan. Buat ngeliat ciptaanNya. Buat kenalan sama Dia. Buat mikir juga, kalo semua yang ada di dunia ini, ada yang punya. Ada yang nyiptain. Segala keteraturan di dunia ini, pasti ada yang ngatur.

Alhamdulillah, sekarang lagi ada di Lampung. Walaupun mudiknya telat, tapi anti mainstream lah. Justru disaat orang2 pada beraktivitas, saya jadi mengenal kehidupan asli di Lampung, Way Jepara.

Kehidupan disini itu beda. Hari kemerdekaan disambut dengan meriah. Rame. Heboh. Bahkan ada karnaval. Perayaannya mulai dari H-7 sampe H+beberapa hari. Anak anak merasakan sensasi hari kemerdekaan. Lain dengan sekolah sekolah yang hanya upacara. Walaupun upacara gak boleh dilupakan, tapi kan gak semua orang suka upacara. Iya kan? Makna dari upacara dan sensasi 17an mungkin hanya akan dirasakan sama petugas upacara dan kelengkapan lainnya.

Selain itu, setelah berkali kali ke Lampung, saya baru sadar, rumah disini besar besar. Luaaaas. Jarak satu rumah ke rumah lainnya walaupun gak jauh cuma lebih dari lima langkah, gakaya lagu dangdut itu, hehe. Terus disini juga nomer rumah gak selalu diperhatiin. Kalo ada kirim surat atau apa, yang dijadiin patokan paling rt atau rw aja. Nama jalan pun gak ada. Saya jadi inget pas minta alamat rumah temen yang di sumatera barat. Disana malah gak ada RT rw. Di Bali juga gitu.

Keren ya.
Padahal kita di Indonesia, tapi gak semuanya seragam.

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَ‌ ؕ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَـتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا‌  ؕ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."
[QS. Az-Zukhruf: Ayat 32]

Perbedaan itu keren.
Berada di lingkungan berbeda pun keren.
Bisa menerima perbedaan lebih keren lagi.
Tapi tetep ada yang gak nerima perbedaan, itu namanya gak keren.
Ditengah keberagaman itu semua, ada yang ngatur. Ada yang Maha Segalanya.
Dia itu yang paling keren.
Bukannya Allah itu Mahakeren?
Hehehe.