Kamis, 17 Mei 2018

Adzkia

Seharusnya, besok adalah hari jadimu yang ke 1. Setidaknya kamu sudah memiliki beberapa gigi dan bisa duduk sambil tertawa sampai membuat semua orang bahagia.

Tapi apa mau dikata, barangkali kamu tidak mau jauh jauh dari penciptamu, sehingga sekejap saja kau bahagiakan makhluk makhluk ciptaan Nya, lalu kamu pulang ke tempat yang paling membahagiakan, pintar kamu nak.

Tapi dengar tantemu akan menceritakan bahwa kamu justru dinantikan disini. Kehidupan mu di alam kedua yang orang orang sebut sebagai alam rahim, membahagiakan siapapun yang mengetahuinya. Perkembangan mu dari hanya segumpal daging hingga lengkap dengan tangan kaki, membuat hati kami semua bahagia : ayah, ibu, tante, om, embah embahmu. Semua bahagia, semua menantikan.

Bahkan sesekali ibumu menawarkan tantemu ini, "mau ngerasain dia nendang nendang gak?" atau ibumu bercerita ke tante tentang ayahmu yang stand by memegang perut ibu mu sambil menantikan gerakanmu. Lamaaaa sekali tak ada gerakan. Ayahmu pergi sebentar melepas tangannya, kemudian barulah kamu menendang nendang. Seketika itu juga ibumu memanggil ayahmu lalu  ayahmu datang berlari kembali memegang perut ibumu, dan kemudian kamu berhenti menendang nendang.

Nak, kamu tau betapa lucunya kamu bahkan sebelum kamu benar benar dilahirkan? Kamu bahkan sudah bisa meledek orang tuamu, dan membuat semua orang tertawa dari dalam perut perempuan yang sangat tantemu ini sayangi.

Besok lusa, tante akan ceritakan tentang ibu mu. Manusia yang boleh jadi paling sabar menghadapi tante. Paling baik, dan juga kata orang orang, dulu paling mirip sampai dikatakan tantemu dan ibumu ini kembar. Bahkan salah satu prestasi utama tantemu ini adalah berhasil mengalahkan tinggi ibumu. Hahaha.
Setiap kali mengukur sudah berapa besar pertumbuhan tantemu, ibumu sering menjadi alat ukurnya.

"sedikit lagi ana kalah tinggi nya sama husna ya."

Iya, nama tante husna, nama ibumu rosyana sulthona, dipanggilnya ana. Baguskan namanya? Iya, seperti namamu, Adzkia Jasmine Sholihah. Semoga bahagia ya Sholihah ❤️

Baik, tante kasih bocoran sedikit ya nak tentang ibumu,

Ibumu sabar, paling sering mengalah walaupun dulu paling sering berantem dengan tante. Paling memahami bahwa adiknya lebih membutuhkan sesuatu dibanding dirinya. Bahkan dengan rela ibumu memberikan yang ia punya hanya untuk adiknya yang banyak mau ini.

Ibumu adalah ibu terbaik sedunia.

Makanya ketika kamu mau lahir, tante dan om mu siap sedia kesana kemari. Membeli ini itu bersiap menyambut kamu. Ibumu bilang, "husna beliin ini ini dan ini ya." bentuknya seperti apa tantemu tidak tau, tapi buat apa ada mulut kalo bukan untuk mencari tau ya kan?

Akhirnya om dan tantemu, malam malam pergi dari satu toko ke toko lainnya. Om mu bagian mengendarai motor (tantemu belum bisa bawa motor waktu itu), dan tantemu bagian naik turun motor, keluar masuk toko, menanyakan barang yang kamu butuhkan nanti. Setelah beberapa kali masuk toko, akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah. Setelah itu, embah putri mu menyuruh tante dan om pulang ke rumah.

Tante masih ingat detik detik kelahiran mu sampai detik detik kamu memutuskan untuk memenuhi panggilan satu satunya dari Sang Pencipta. Tante dan om mu memang stand by di rumah, agar nanti ketika kamu datang, semuanya beres. Kamu tinggal tidur, ibumu tinggal tidur.

Tapi nak, rupanya kamu terlalu nyaman tidurnya. Sejak kabar pertama kali datang, tak henti air mata ini mengalir. Entah apa yang harus dilakukan. Kamu benar-benar manusia pertama yang memberikan tante banyak pelajaran tentang bagaimana menghadapi hal tersebut.

Bahkan suara sirene yang terdengar dari jarak sekian ratus meter membuat hati tantemu ini tak henti berdegup. Semuanya terasa begitu cepat tapi juga begitu lambat. Kamu cantik, putih, bersih, hanya saja terasa begitu.... Dingin. Kamu hanya seperti tertidur.

Sampai suara sirene ambulan di depan rumah semakin keras, hal itu meninggalkan bekas untuk tantemu, bahkan sampai sekarang.

Bagaimana bisa suara sirene dan mobil ambulan bisa bisanya membuat tantemu mengingat mu kemudian menghasilkan beberapa tetes air mata. Aneh bukan? Setiap melihat ambulan lalu hanya kamu yang ada dipikiran. Tante bisa begitu deg degan, lalu begitu sedih. Nak, bisa bantu tante sembuhkan kebiasaan ini? Anggap saja ini kebiasaan yang sudah setahun ini membersamai tante ya. Kalau pun memang tidak bisa, tidak apa-apa. Setidaknya kita sudah sama sama memiliki kenangan ya kan?

Tantemu terlalu banyak bicara tentang ibumu dan dirinya sendiri ya? Baiklah, ini tentang ayahmu. Tidak banyak yang tante ketahui, tapi yang tante tau ayahmu telah menjadi baik ketika menikahi ibumu. Ayahmu juga siap sedia menolong siapapun terutama tantemu. Ayahmu cukup menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik ketika tantemu membutuhkan pendapat dari sudut pandang laki-laki.

Om dan embah embahmu?
Ah jangan ditanya. Bahkan kami sering membicarakanmu kapan pun dimanapun. Bahkan kami sudah bercanda dengan mu, kamu hanya belum tau saja.

Begitu nak.

Sedikit cerita tentang keluarga mu di bumi, kiranya cukuplah menjadi sebuah pengenalan singkat. Nanti nanti, kalau sudah waktunya, kita saling sapa ya. Kamu sapa tante duluan, jangan lupa, kamu lebih muda. Eh, kalo kamu tidak lihat tante di surga, jangan lupa dicari ya. Tempat mu pasti di surga, tempat tante yang masih belum pasti bisa langsung ke surga atau tidak.

Pokoknya, jangan lupa cari tante. Nanti tante ceritakan lagi lebih banyak tentang kehidupan di bumi. Tentang indahnya berdoa, tentang indahnya berjuang dan alasan kenapa manusia bisa begitu mulia dibandingkan malaikat yang sedang bersamamu itu.

Begitu ya nak, eh nak atau dek? Hahaha.

Dedek adzkia, semoga bahagia ya, titip salam untuk Sang Pencipta. Semoga nanti pada waktunya, tantemu ini bisa dengan bahagia sampai ke surga. Ibu mu juga. Ayahmu juga. Tante tante mu juga. Embah embahmu juga. Om mu juga. Sepupu sepupu mu juga. ❤️

Ps: tantemu ada dua, om mu ada satu. Ibumu anak kedua dari empat bersaudara. Dua saudaranya perempuan, dan yang paling muda (karena bukan yang paling kecil dalam ukuran) laki-laki.

Senin, 14 Mei 2018

Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya

Mungkin secara khusus, ini adalah buku pertama tentang Bung Hatta yang saya baca. Biasanya sejarah Indonesia selalu mengungkit ungkit bung karno. Hampir jarang membahas bung hatta. Bener sih, karena bung karno itu orang nya amat vokal dan Indonesia seringkali lebih mengenal orang orang yang vokal.

Setelah bung hatta meletakkan jabatannya dari wakil presiden pertama RI, hampir tidak terdengar lagi kiprahnya di dunia politik Indonesia. Namun di buku ini, saya jadi banyak tau tentang bung hatta dan semakin kagum saya jadinya karena kecerdasan dan wibawa yang amat terasa.

Buku ini ditulis oleh ketiga putri bung hatta. Sebagai anak anak dari proklamator Indonesia, banyak hal yang tidak diketahui dituliskan disini. Bahkan sampai kepada kritikan terhadap orang orang yang sering kali mengelu elu kan bung karno sehingga melupakan jasa bung hatta. Bahkan, dalam salah satu obrolan yang dituliskan oleh anak pertama bung hatta disampaikan bahwa nama Soekarno - Hatta adalah nama dari satu orang. Dan Hatta merupakan nama belakang dari Soekarno.

Mungkin kalo saya gak baca buku ini, saya gak akan tau ya kalo ternyata peran bung hatta begitu disingkirkan. Bahkan ketika soeharto naik jadi presiden, isu tentang bung hatta mau menggulingkan soeharto pun sempat center. Hal ini mengakibatkan soeharto memberikan undangan kepada bung hatta. Tapi memang dasarnya bung hatta yang kalem, isu isu seperti itu dapat dihadapi dengan tenang.

Saya senang membaca buku ini, karena rasanya jadi lebih mengenal bung hatta. Terlebih lagi saya mengenal nya sebagai sosok seorang ayah, keren kan?

Dan mungkin saya agak membandingkan dengan bung karno, anak bung hatta terlihat tanpa drama drama politik walaupun sebenarnya mereka suka geregetan dengan Indonesia. Dibandingkan dengan anak bung karno yang banyak terjun ke dunia politik namun sepertinya tidak sesuai dengan tujuan awal. Menjadikan kekuasaan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Eh tapi, bung karno pun diakhir hidupnya mengangkat dirinya jadi presiden seumur hidup kan ya?

Uwes uwes, nanti pusing ngomongin politik hahahha.
Tapi buku ini termasuk ringan kok, saya jadi kaya diceritain langsung dan visa membayangkan sendiri keakraban keluarga bung hatta.

Dari bung hatta saya belajar bahwa tidak harus menjadi yang terlihat di depan untuk bergerak. Dimana pun kamu, apapun posisimu, selalu lakukan yang terbaik untuk Indonesia. Dan sumpah sakti untuk tidak menikah sampai indonesia merdeka itu, ma syaa Allah. Panutan!

Suatu Hari di Baduy

Suatu hari di Baduy...

"itu mah masih mending teh, aku pernah ya ngobrol sama orang Baduy, terus dia nanya Amerika itu dimana. Katanya dia mau nganter madu ke Amerika."
"lah, emang bisa?"

Beberapa hari "bermain" bersama mereka membuat panggilan teh tidak lagi asing ditelinga. Belum lagi ketika harus manggil laki-laki yang lebih tua dengan sebutan "Aa" atau "Akang." padahal dulu untuk memanggil laki-laki yang lebih tua dengan sebutan "mas" saja butuh waktu sebulan untuk benar benar terbiasa di lidah. Sebenarnya lebih enak memanggil dengan sebutan "kak" tapi, when in Rome, do as the Romans do.

"nah iya teh, kan gabisa ya. Orang Baduy kan gaboleh tu yang nyentuh modern modern. Alat elektronik aja gaboleh, listrik aja gak ada dirumah nya."
"iya, terus kamu jawab apa?"

"ya aku bilang, amerika jauh pak, harus naik pesawat."
"saya bisa jalan neng."
"gabisa pak, nyebrang laut juga."
"saya bisa berenang."
"gabisa pak, lautnya dalam dan luas. Bapak bisa tenggelam nanti."

....

Sampai disitu, aku terdiam mencerna kata kata teman baru ku itu. Dia banyak cerita tentang pengalamannya di Baduy Dalam. Perjalanan yang harus ditempuh berjam jam, dengan track yang tidak biasa, untuk manusia umumnya mungkin bisa memakan waktu sampai delapan jam. Tapi untuk orang Baduy asli tidak sampai lima jam mereka melakukan perjalanannya. Itu pun sudah ditambah dengan barang bawaan yang beratnya kadang tidak masuk akal.

Baduy adalah sebuah suku di Banten yang masih menjaga adatnya dengan sangat baik. Bayangkan, hanya dipisahkan dengan sebuah jembatan maka kamu akan memasuki sebuah wilayah yang tanpa tiang listrik di dalamnya. Itu masih Baduy Luar. Kamu masih bisa berfoto foto disana. Tapi ketika di Baduy Dalam, berani mengambil foto sekali saja, maka tunggu apa yang akan terjadi kepadamu.

"kenapa ya orang Baduy bisa segitu kuatnya dengan adat mereka? Maksudnya, yang ngunjungi mereka kan gak cuma satu dua ya, tapi banyak. Pun juga dengan kemodernannya mereka. Sebagai manusia, rasa ingin tahu itu pasti ada dong ya. Tapi mereka bisa gitu ngeredam itu semua dan tetap bersama adat mereka."
"yang aku tau ya na, kalo mereka mau kaya yang modern modern gitu, mereka nanti dikeluarin dari suku nya."
"tuh kan, berarti mereka gak sekolah juga kan?"
"iya, kalo sekolah nanti mereka dikeluarin."

Hmmm.

"lagian, mereka itu cinta sama sukunya, sama adatnya, sama tetua adatnya. Mereka seneng ngelakuinnya. Coba deh, kamu kalo udah cinta sama sesuatu pasti ngelakuinnya dengan totalitas kan. Itu pentingnya cinta na, cinta yang bener akan menghasilkan ketaatan. Apa yang disampaikan pemimpin pasti kamu ikutin, karena emang kadang kita gak paham maksudnya apa, tapi setelah kita laksanakan pasti ada hikmahnya. Kan tugas kita hanya taat kan? Main kan peran dengan sebaik baiknya selama masih sesuai sama Al Quran dan hadist Rasulullah."

Obrolan jadi kemana-mana. Tapi memang masuk akal.

"iya teh, lagian mereka itu agamanya sunda wiwitan. Mereka percaya sama Allah, percaya rasulullah. Mereka juga suka maulid gitu teh."
"hoo gitu ya, mereka sholat gak?"
"engga teh."
"mereka belom selesai ya di dakwahi nya, tugas kita sebenernya buat menyelesaikan itu... Masih ada interaksi antara islam dengan tradisi lokal. Wali songo belom selesai, itu harusnya tugas kita..."

Kemudian kami tenggelam dengan pikiran masing-masing. Sambil memandangi jalan yang terus menanjak, kelelahan yang tanpa ujung, namun pembelajaran, ilmu pengetahuan dan segudang hikmah lainnya yang membuat perjalanan ini terasa sangat mahal walau tak ada satu rupiah pun uang yang perlu dibayarkan.

Kamis, 10 Mei 2018

Betapa anehnya, ketika kamu begitu optimis disatu waktu, kemudian kamu menjadi patah semangat pada detik berikutnya.

Telfon terakhir yang ku terima benar benar membuat semuanya mematahkan, kalau tidak mau dibilang kacau. Sesungguhnya aku kacau, bahkan tidak tau lagi harusnya bagaimana.

Ketika aku benar benar begitu semangat, lalu semuanya berantakan tiba-tiba. Ketika aku bersantai santai ria, kemudian pada akhirnya aku tidak berhenti mengucap kata, "seharusnya..."

Ini benar benar aneh, dan semuanya benae benar menguji kesabaran, kalau tidak mau dibilang menyebalkan.

Aku ingin marah, ingin saja. Marah, kecewa, kemudian pergi meninggalkan. Abaikan segala sesuatu yang seharusnya ku pikirkan. Melupakan yang seharusnya ku ingat.

Sampai waktunya nanti menyembuhkan.

Tapi aku seolah masih ingin berjuang, hanya saja tak lagi sesemangat dulu.

Tidak tidak.

Bebanku tidak yang paling sulit, tentu saja. Kamu juga punya ujiannya sendiri. Kita sama sama diberi ujian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak usah merasa yang paling sulit, atau yang paling menderita. Semuanya sama.

Mungkin memang benar kamu harus menengok ke arah yang lain. Melihat pilihan lain dan memutuskan yang lain.

Kamu hanya perlu berhenti untuk sok tau. Hanya perlu lebih banyak berpasrah dan berkhusnudzon pada yang Mahamenentukan.

Kalau yang ini mampu kan?

Jumat, 04 Mei 2018

Kamu suka sendirian?
Pasti kebanyakan orang bilang sendiri itu kurang menyenangkan, eh tapi sebagian yang lain tentu saja menyukainya. Semua tergantung orang dan kondisinya. Beberapa hal memang menyenangkan dilakukan sendirian.

Tapi ini tentang saya yang entah bagaimana jadi sangat menikmati sendiri kemana-mana. Yes, I do.

Beberapa orang bilang kasian, beberapa yang lain bilang menyedihkan, beberapa yang lain menanyakan "dimana bagian terserunya?"

Well guys, mungkin nyasar memang sudah menjadi keahlian saya. Mulai dari nyasar karena lupa jalan pulang ke rumah sendiri sampe memang nyasar karena gatau jalan tapi sok tau aja.

Berbekal pengalaman nyasar yang selalu menemukan titik terang, akhirnya saya berani beranikan diri untuk ngebolang atau jalan jalan. (mau bilang traveling tapi kayanya terlalu berat ✌️)

Awalnya memang terasa menyedihkan, ketika orang lain gantian minta difotoin, saya cuma bisa selfie heuheu. Tapi itu bukan masalah. Toh pada akhirnya saya jadi tidak terlalu mementingkan foto, bahkan saya jadi malu sendiri kalo mau selfie. Haha. Dan juga saya jadi memahami hakikat perjalanan itu sendiri. Ea.

Saya itu, paling gak suka ngobrol sama orang asing soalnya takut diculik. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang yang akhirnya membuat saya berani beraniin diri ngobrol sama orang asing.

Biasanya selalu risih sendiri kalo ada yang ngajak ngobrol. "ngapain si dia, gausah ajak gue ngobrol kek. Duh kok dia nanya nanya si. Kok dia..." berbagai pikiran negatif memang datang. Tapi itu dulu. Ketika akhirnya perjalanan semakin jauh, waktu semakin lama, pengalaman semakin membuat saya belajar, saya selalu menemukan orang baru di setiap perjalanan.

Mulai dari yang hanya sekedar ngobrol di bus, kereta, atau abang gojek. Sampai teman ngobrol di tempat tujuan. Percayalah guys, saya pernah ngobrol sama orang yang baru dikenal sampe hampir tiga jam atau mungkin lebih. Entah apa yang diobrolin tapi memang banyak sekali hal yang saya dapatkan.

Besok, lusa, mungkin kamu mau coba jalan jalan sendirian? Bermodal gugel, nanya orang sekitar, menjadi ramah bahkan sampe diajak nginep di rumah orang yang baru kenal. Atau, mau ajak saya jalan bareng? 🙊

Rabu, 02 Mei 2018

Kalau bukan dia memang kenapa?

Kedekatan kalian selama ini, canda tawa yang diam diam kalian lakukan, sapaan sapaan singkat hanya untuk sekedar melepas rasa penasaran atas dia-sedang-apa atau bagaimana-hidupnya, tidak lantas membuat kalian diharuskan untuk bersama.

Kalian hanya menyukai waktu ketika kalian sedang berbicara. Waktu kalian saling bertukar pikiran. Waktu kalian saling bercanda canda tidak penting. Kalian hanya menyukai waktunya. Kalian menyukai momen tersebut. Belum tentu orangnya.

Memang, tidak semua hal bisa dilakukan dengan semua orang. Dan kamu telah menemukan bahwa semua hal bisa dilakukan dengannya. Hal itu kemudian membuat kamu nyaman. Lalu memutuskan untuk menetap. Menetap pada setiap kenyamanan kenyamanan semu. Padahal kamu hanya belum melihat orang lain juga bisa kamu ajak melakukan semua hal bersama.

Kamu menutup diri dan menjadikannya satu satunya. Padahal, kamu juga tau bahwa dia belum tentu orangnya. Yang akan menemanimu sampai nanti waktunya berakhir bagimu di dunia. Tapi kamu dengan yakinnya menjadikan dia satu-satunya.

Karena kamu nyaman kemudian kamu mengabaikan hal hal yang nenjadi batasan. Mungkin memang kamu tidak menyampaikan perasaan mu kepadanya. Kamu menyembunyikannya dengan rapi sempurna. Lalu menyampaikan lewat doa doa agar suatu hari nanti dia cukup peka untuk menyadarinya dan semua berakhir sesuai rencana. Rencanamu tentu saja.

Tapi ini belum waktunya.
Dia belum tentu orangnya.
Dan kalian belum tentu bersama selamanya.

Sebelum terlalu jauh lagi, sebelum hatimu benar-benar kau tutup untuk yang lain, sebelum kamu benar-benar terlena pada khayalanmu sendiri. Aku beri tau sesuatu.

"kamu boleh saja dekat dengannya, saling bercerita, memberi semangat, menguatkan atau sekedar bercanda canda receh. Boleh saja. Tapi ada batasnya. Tidak semua hal harus kamu lakukan dengannya. Dan tidak semua hal harus berhubungan dengannya. Tidak usah menghubung-hubungkan sesuatu, itu bukan kebetulan, hanya Allah mengaturnya begitu. Tidak ada tanda tanda yang bermaksud membuat bapermu itu semakin dalam. Tidak usah berharap banyak, dan tidak usah berharap sama sekali. Kalian belum tentu bersama. Jangan jadikan dia sebagai pelabuhan terakhir karena dia tidak memberikan apapun sebagai kepastian. Tidak juga menunjukkan tanda tanda bahwa kalian memiliki perasaan yang sama. Itu hanya imajinasimu. Maka, sudahi sekarang. Jadi teman secukupnya, bicara seperlunya, akhiri yang tidak perlu sesegeranya. Jangan tunggu nanti sebelum lukamu semakin dalam."

Kataku pada hati.

Selasa, 01 Mei 2018

Tentang sejarah

Kemarin di Singasari, sambil mengenang kehidupan Ken Arok dan Ken Dedes, saya juga kembali ke sebuah masa yang akhirnya menyadarkan bahwa saya bukan lagi pelajar biasa. Status saya (waktu itu) bukan sekedar siswa, tapi mahasiswa. Hal ini berarti apa yang saya lakukan, perkataan yang saya tuliskan, harus jelas sumbernya, berdasarkan fakta dan bukan asumsi belaka.

Menjadi mahasiswa sejarah di kampus negeri ibu kota bukan termasuk dalam cita-cita saya. Pun juga tak pernah sekalipun saya bayangkan. Semua berlalu begitu saja tapi saya bertekad untuk bertanggung jawab karena telah menerima keputusanNya. Bentuk tanggung jawab saya adalah dengan jadi mahasiswa yang baik dalam perkuliahan, salah satunya.

Ditahun pertama, ketika kebebasan mau belajar atau tidak telah ada di tangan saya, salah satu mata kuliah terbaik membuat saya sadar bahwa saya harus belajar. Mata kuliah tersebut adalah Sejarah Indonesia Masa Klasik. Memang judulnya adalah masa klasik, tapi dipertemuan awal kami membahas tentang bagaimana bumi dan dunia terbentuk, teori apa yang paling kuat, sampai masa masa prasejarah dunia. Mengenali makhluk - makhluk yang mereka katakan sebagai manusia jenis pertama. (padahal sampai saat ini saya tidak mau mengakui bahwa saya adalah versi terusan dari pitecantropus erectus. Kita berbeda tentu saja.)

Sampai akhirnya di pertemuan ke tiga atau ke empat, dosen terbaik pun datang dan benar-benar membawakan masa klasik Indonesia ke kami mahasiswanya. Kami dibawa ke masa kerajaan Kutai sampai Majapahit. Pertemuan pertama langsung dijelaskan tentang bagaimana perkuliahan kita kedepannya : kami membuat kelompok, mempresentasikan satu masalah yang paling menarik dari kerajaan yang kami dapatkan dari hasil kocokan, menyampaikan argumen dan pendapat serta buku sumber yang dijadikan rujukan minimal lima buku. Buku buku tersebut harus lulus sensor dosen tentu saja. Tidak bisa sembarang buku sejarah yang tidak kredibel penulisnya dijadikan rujukan. Dan semuanya disampaikan dalam bentuk power point (saja).

Sederhana memang kelihatannya, tapi bagi saya yang waktu itu baru menjadi mahasiswa tentu saja itu tidak mudah. Entah buku seperti apa yang bisa lulus sensor dosen. Dan rupanya, setelah buku buku tersebut ditemukan, saya yang mendapatkan Kerajaan Melayu, semakin asyik dibawanya.

Satu persatu kata saya baca, berbagai buku saya lahap sampai akhirnya saya berhenti pada satu kesimpulan : setiap kisah kerajaan bergantung pada yang menulis. Interpretasi setiap penulis pada satu fakta yang sama sangat mungkin memiliki perbedaan. Ini sangat menarik karena bagi saya, sejarah klasik Indonesia adalah hal yang sangat sulit untuk dipercayai. Sekalipun semua ahli sejarah mengatakan bahwa sejarah itu berdasarkan fakta.

Satu persatu kerajaan kami bahas, tanya jawab kami lakukan. Ilmu baru lagi, pertanyaan yang diajukan harus memiliki sumber rujukan dan alasan kenapa kamu bisa bertanya seperti itu. Tidak bisa lagi bertanya seenak jidat. Selanjutnya, pertanyaan tidak lagi bisa tentang mana yang benar antara pendapat A atau pendapat B. Ini menarik, karena saya jadi menilai, pada sejarah kebenaran bisa jadi relatif.

Pun juga dengan Ken Arok yang (katanya) kerajaannya terletak ditempat yang saya pijaki waktu itu. Ada tokoh yang mengatakan bahwa Ken Arok adalah anak dewa. Ada yang bilang dia anak manusia. Ada yang bilang dia titisan dari dewa A. Terlalu banyak versi hanya untuk menentukan "Ken Arok anak siapa". Tapi memang itu tugas sejarah, kebenaran yang ada perlu dikritisi. Mana mungkin Ken Arok adalah anak manusia biasa tapi memiliki kemampuan untuk mendirikan kerajaan Singasari. Dia pasti dibantu sesuatu. Tapi apa benar dia anak dewa? Apa hubungannya dengan Poseidon? Ah, mereka beda dunia. Dewa nya tentu tidak sama.

Juga tentang dari sekian banyak wanita, kenapa Ken Dedes yang diperebutkan? Ada banyak versi jawaban dari pertanyaan tersebut.

Menarik bukan?

Bahwa ketidakpastian lah yang akhirnya membuat saya jatuh cinta pada sejarah. Tertarik pada setiap kejadiannya, dan sibuk membuat cerita versi diri saya sendiri tentang sejarah tersebut. Semuanya menyenangkan untuk dipelajari.

Ya kan?

Mau belajar sejarah dengan ku?
Atau
Mau mengukir sejarah dengan ku?