Selasa, 09 April 2019

Sesulit apapun, your life must be easier than him.

Gue barusan papasan sama tukang es yang kelelahan karena narik gerobak di tanjakan deket rumah yang menurut gue lumayan curam dan serem buat newbie rider kaya gue. Bahkan, gue yang bawa motor aja baru berani lewat situ setelah punya pengalaman sekian bulan naik motor. Cemen emang gue.

Tapi bukan itu intinya 😅

Jadi tanjakan itu emang cuma cukup buat satu kendaraan, kalo ada yang naik berarti yang lain gabisa turun. Kalo ada yang turun berarti yang lain gabisa naik. Sesederhana itu karena jalanannya kecil.

Terus, pas tadi ngantri lumayan si, gue dapet antrian ke tiga atau empat lupa. Gue mikir dong apa yang membuat ngantri jadi lama tapi gak ada motor yang lewat. Gataunya, ada bapak ini lagi dorong gerobak eskrim. Sedang berusaha sampe titik atas.

Gue ngeliatnya ngeri dong, takut jatoh atau mundur:(

Setelah itu akhirnya gue memutuskan untuk ngeliat muka bapaknya clearly. Bapak itu diem di tempat, nafas. Ia, beneran nafas. Di belakangnya motor motor nyalip dan sebagai bahan refleksi, ketika ngantri lewat lagi, gue ngeliatin bapaknya.

Sedih:(

Our life must be easier. A hundred times easier.

Gue yang masih tinggal sama orang tua, masih numpang makan, masih disekolahin orang tua dan segudang hal lainnya jadi banyak mikir.

Gak tega rasanya kalo itu orangtua kita atau orang yang kita kenal harus dorong gerobak buat nyari uang.

Gue khusnudzon bahwa setiap orang punya rezeki nya bahkan bisa jadi eskrimnya laku dan melebihi pendapatan guru honorer macem gue. Aamiin.

Gue sangat berdoa hal tersebut ya.

Jadi, setelah mikir tadi, yuk diniatkan buat beli dagangan abang abang dorong lainnya. Apalagi setelah ngeliat muka lelahnya nanjak yang lelah banget gitu mukanya.

Belum lagi orang orang yang harus jalan kaki sekian kilometer demi mendapatkan pembeli. Gue pernah beli cireng bapak bapak di tanjakan deket situ dan pas gue tanya bapaknya mau kemana, dia bilang mau jualan di deket pasar malem yang jaraknya bisa 2 kiloan dari situ. Dan dia jalan kaki, sendirian, malem malem.

Banyak banyak bersyukur ya sama hidup kita sekarang. Semoga apa apa yang kita lakukan bernilai ibadah dan Allah berikan balasan pertemuan denganNya dihari akhir nanti. 

Sabtu, 06 April 2019

Dia banyak menangis belakangan ini. Belum lama ku ketahui ternyata ia sedang mengingat dosa dosanya. Menghitung seberapa banyak sholat yang ia lalaikan karena belum tersentuh hidayah. Berusaha mengingat kapan ia baligh namun belum menutup aurat secara sempurna.

Ia banyak menangis belakangan ini, ku pikir seiring berjalannya waktu ia akan normal kembali. Tapi semakin kesini kulihat matanya semakin bengkak. Ketika ku tanya ada apa, ia menjawab dengan lemas dan lemah. Katanya, untuk orang yang pelupa seperti dia, mengingat dosa dosa bukan hal yang mudah. Ia menghabiskan beberapa waktu ini untuk menentukan kapan mulai menjadi perempuan dewasa seutuhnya. Hasilnya tak ada, lalu dia meneteskan air mata lagi.

Besoknya ku lihat ia menghabiskan waktu sepanjang yang ia miliki untuk sholat. Zuhur nya tidak hanya empat rokaat wajib, tapi diulang terus terus terus. Katanya ia membayar sholat sholat yang ia lalaikan. Ia hanya ingin diringankan urusan akhiratnya.

Ia hampir tak pernah keluar, siang malam menangisi dosa dosanya, aku hanya perlu untuk lebih sering ke rumahnya. Hidupnya juga tentang hari ini, tidak hanya kemarin.

Awalnya ia menolak, bahkan waktunya untuk makan pun berkurang. Aku sedih melihatnya, ada yang perlu diperbaiki dari dirinya.

Akhirnya dari situ ku ajak semua teman temannya untuk ke rumahnya. Pelan pelan diperkenalkan dengan cakrawala dunia. Memberikan pemahaman bahwa Allah akan mengampuni orang orang yang memohon ampun dengan sungguh sungguh.

Lalu sekarang dia sudah mulai berani keluar rumah, menjadi pribadi yang baru. Berhenti menangisi masa lalunya dan lebih banyak berkontribusi agar tak ada lagi orang orang seperti dirinya yang dulu.

Ia memutuskan lebih banyak bermain dengan anak anak baru gede. Menjadi orang yang mengenalkan masa lalunya agar tak ada manusia yang memiliki dosa sebanyak dirinya.

Ia banyak belajar, banyak mengamalkan dan menyampaikan. Ia menjadi orang baru, yang tak lagi ku kenal. Ia banyak tersenyum, teduh, meneduhkan, memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang melihat.

Ia terbaik.
Representasi manusia yang mau belajar menuju sempurna.

Selamat, izinkan aku menjadi sepertimu ya. Bersaing dalam kebaikan, mengurangi dosa dan berbagai hal lainnya.

Selasa, 02 April 2019

Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap dosa.

Hmm, seketika keingetan bukunya bang tere, dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta.

Kurang lebih maksudnya sama, apa yang kita nyatakan, apa yang kita sampaikan pada hakikatnya dia tetap dalam bentuk yang sama. Jika itu cinta, maka sekalipun disembunyikan maka itu tetap cinta. Pun juga dengan dosa, sekalipun tak ada manusia yang tau dan kita menutup rapat semuanya, itu tetap dosa.

Setiap manusia biasa lahir bersama dengan sifat keluh kesah, lemah, tidak bersyukur, kesulitan, lalai dan berbagai hal lainnya. Tapi ada Allah yang dengan baiknya menutupi hal hal tersebut hingga akhirnya membuat manusia seolah terlihat sempurna.

Allah memang yang memerintahkan kita untuk menutup aib aib kita. Bahkan Allah benci sama orang orang yang Allah udah tutup tu aibnya, tapi ternyata dia dengan bangganya ngebuka aibnya sendiri.

Astagfirullah.
Mudah mudahan kita engga gitu ya.

Nah terus, jangan karena Allah udah tutup aib kita terus ngerasa kalo kita yang paling baik, paling sempurna, yang tanpa dosa dan cela. Eh tau tau terselib rasa sombong kaya iblis. Ana khoiruminhu. Saya lebih baik dari kamu.

Na'udzubillah ya

Jadikan pengingat diri kalo apa apa yang gak keliatan bukan berarti gak ada. Dosa dosa yang Allah tutup, bukan berarti dia gak ada. Tetep, ada. Yang kita sembunyiin, tetep itu dosa.

Makanya, senantiasa sadar kalo kita ini penuh dosa. Jadi ketika dateng pujian, kita sadar bahwa hanya Allah yang layak dipuji. Ketika ada yang muji bilang alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Sadar diri kalo orang lain ngeliat kita baik itu cuma karena Allah nutup aib kita aja.

Segala kebaikan, ekspektasi positif manusia, semuanya hanya karena Allah nutup aib kita. Gada lagi yang lain. Dah itu aja.

Saya inget banget senior di kampus pernah bilang sesuatu tapi lupa udah pernah nulis disini atau belom, tapi lemme share again.

Berdoa, minta sama Allah supaya apa apa yang orang lain pandang baik di diri kita, semoga Allah juga pandang baik. Mudah mudahan gak cuma makhluk aja yang ngeliat kita baik, tapi juga Sang Pencipta yang ngeliat kita baik.

Gitu.

Biasain diri untuk sadar kalo kita itu banyak dosa. Jangan sombong makanya. Kalo ada dosa itu tampak, barangkali gada tempat dan ruang yang cukup untuk membawa dosa kita kemana-mana. Jangan jangan kalo dosa itu keliatan, kita gabisa tu naik krl desek desekan, karena dosa yang kita bawa bahkan gak muat untuk kita bawa naik krl.

Ya Allah...

Mudah mudahan kita Allah ampuni dosanya ya.

Dosa yang keliatan, yang gak keliatan, yang dinyatakan, yang disembunyikan, yang kita ingat, yang kita lupa, yang dilakukan dengan sadar yang dilakukan tanpa sadar
Semoga Allah terus baik dan memaafkan kita sampe Allah gak tega ngeliat kehinaan kita.

Aamiin

Minggu, 31 Maret 2019

Hati manusia tidak ada yang tau.

Hari ini, ia bisa menyukai sesuatu dengan amat sangat. Besok lusa, ah tidak, sedetik kemudian bisa saja menjadi sangat benci hal tersebut.

Hari ini ia berjanji manis, nanti sore atau bahkan lima menit lagi, lupa dengan hal yang pernah ia katakan.

Hari ini ia memperjuangkan sesuatu, besok sore memutuskan untuk menyudahi perjuangan.

Hati manusia tidak ada yang tau.

Bukan hanya hati yang orang lain yang tidak kita pahami, namun juga hati yang kita miliki.

Aku pernah berada dalam kondisi benar-benar tidak mengetahui apa yang ku mau. Merasa semuanya terlalu salah untuk menjadi benar dan terlalu benar untuk disalahkan.

Aku tidak bisa memutuskan. Semua terlihat baik, tapi juga memiliki sisi tidak baik.

Jangan jauh jauh mengurus hati orang lain, karena hati dan pikiran kita sendiri bahkan tak ada yang tau apa yang akan ia pilih dan putuskan.

Maka,
Atas pertimbangan pertimbangan ini,

Memohonlah pada Sang Pemilik Hati agar selalu dicondongkan pada sesuatu yang Dia ridhoi. Yang di ridhoiNya pasti yang terbaik.

Sesederhana itu.
masalahnya, itu juga rumit.

Jumat, 29 Maret 2019

Dia bertanya, "kamu dimana?"

Kemudian aku berfikir keras, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan dimana keberadaan ku.

Masih di bumi memang, tidak berbeda sekian banyak daerah waktu. Namun tidak ku temukan kata kata yang tepat untuk menggambarkannya.

"Aku masih di bumi."
Akhirnya ku jawab seperti itu setelah menghabiskan waktu 24 jam untuk berpikir.

Dia diam.
Aku melihat ceklis dua biru sedetik setelah ku balas pesan itu. Tapi sudah hampir satu purnama tak ia balas.

Hari ini kembali ku tengok, ia belum lama online. Aku melihat statusnya pun baru saja ia update.

Barangkali keberadaan ku tak lagi penting untuknya. Tak apa. Bumi masih akan terus berputar dan langit tak akan berubah menjadi merah jambu hanya karena pengabaiannya.

Aku tidak apa apa.

***

"Di bumi sebelah mana?"
Purnama ketiga ia datang, lagi.

Tak ku buka pesannya, hanya ku baca sekilas dari pemberitahuan chat.

Aku masih belum menemukan kata kata dimana bisa ku jelaskan keberadaan ku.

Tak apa apa, dia tak butuh jawaban itu sekarang.

"kamu ada dimana?"

Setelah satu matahari terbit ia bertanya lagi.

Pesannya masih belum ku baca, tak apa, dia masih sanggup menunggu.

***

Aku sudah menemukannya.

Pesannya ku buka dan ya aku kirimkan lokasi keberadaan ku melalui sebuah foto.

Ia segera membalas pesan ku, langsung, setelah tanda biru itu muncul kembali.

"dimana itu?"
"apa harus satu purnama lagi aku menunggu balasan pesanmu?"

Apalagi yang perlu ku katakan?
Baiklah, besok lusa akan ku balas pesannya.

***

"di dunia ini, apa masih banyak lagi tempat yang ingin kau kunjungi?"

"iya," akhirnya ku jawab setelah bertemu purnama kembali.

"dan berapa banyak lagi tempat yang ingin kau kunjungi?"

....

"tanpa aku."

Katanya lagi, setelah berkali kali pemberitahuan ia sedang mengetik.

"Aku masih di bumi, di sebuah tempat yang belum pernah ku datangi. Sebuah tempat yang mungkin dua puluh tahun lagi akan jadi pemukiman padat. Aku sedang berpikir apa yang bisa ku lakukan untuknya. Tak banyak memang yang bisa dilakukan tangan kecil ku untuk dunia yang besar ini. Tapi, aku sedang berpikir tentang keadilan.

"Adakah perubahan itu harus terjadi? Perlukah pembangunan itu dilakukan? Bukankah hutan akan menjadi aman apabila ia tak disentuh tangan tangan jahat manusia. Maksudku manusia yang hanya memikirkan dirinya dan kebutuhannya. Bukan, tapi keinginannya. Apakah kita benar-benar sedang melakukan perbaikan atau merencanakan kehancuran? Haruskah kita buat desa desa ini menjadi kota metropolitan agar orang orang tak perlu lagi pergi ke tempat lain? Supaya pertumbuhan ini merata tanpa ada yang tertinggal dan ditinggal?"

Send.
Terkirim.
Ceklis biru.

"beri tau aku jawabannya, agar ku beri tau dimana aku berada sekarang."

***

Sudah hampir satu putaran bumi mengelilingi matahari dan ia tak membalas pesanku lagi.

Selasa, 26 Maret 2019


Secinta apapun kita pada seseorang, bersiaplah untuk kehilangan dia kapan saja. Dengan itu, semoga perpisahan tak begitu menyakitkan
-Ahmad Rifa'i Rif'an-

Kamis, 07 Maret 2019

Hikmah dari Nyuci Motor

Akhir taun lalu gue nyoba buat nyuci motor sendiri, eh gataunya sampe berdarah darah.

Hikmahnya adalah gue jadi memahami bahwa segala pekerjaan itu baik, selama dia halal in syaa Allah berkah ya.

Gue pikir nyuci motor gampang, eh gataunya susah. Memutuskan buat udahan akhirnya motor gue engga bersih 😅

Ternyata kelengkapan alat juga mempengaruhi.

Seneng banget akhirnya sesederhana nyuci motor, gue bisa dapet segudang hikmah yang sayang kalo engga dibagikan.

Terus ini sekarang lagi nyuci motor pas hari libur gataunya ngantri banget 😂😂😂

Ternyata pekerjaan ini dibutuhkan ya gaes wkwk. Gue nyampe jam 17.04 sampe 17.51 engga selesai juga, lagi lagi gue belajar kalo mau nyuci motor jangan pas di jam jam orang banyak yang kosong juga. Harusnya jam 10 pagi hari senin tu, ketika semua kendaraan dipake wkwk

Gue bahkan yang cuma nunggu aja lelahnyaaa 😂
Gimana mereka yang kerja euy.
Banyak banyak bersyukur dengan profesi sekarang, tangan lebih banyak dicium anak anak daripada nyentuh barang lain.

Yah seenggaknya dengan menunggu disini berhasil nambah satu postingan. Alhamdulillah.

Gapapa, sekarang banyak belajar yaa~