sometimes, you just need to share, and sometimes you need to keep it in your memory
Senin, 03 Juni 2019
Kamis, 30 Mei 2019
ada yang terlihat jahat padahal amalan tersembunyinya menggunung
ada yang tetap taat ditengah kecewa karena kegagalan
ada yang memutuskan berhenti karena tak kuat lagi menghadapi kehidupan
ada yang sabar dan tetap berprasangka baik
ada yang tak sabar akhirnya mengusahakan segala cara
ada yang diam diam berusaha tanpa ada orang yang mengetahui
ada yang usahanya diketahui semua orang akihrnya menginspirasi
ada yang tidak melakukan apapun namun tetap memiliki penghasilan
ada yang menantikan dalam diam
ada yang berusaha dalam diam
ada yang berjuang dalam keramaian
ada yang diam dalam keramaian
ada yang tak mau dikenal
ada yang maunya terkenal
ada yang ingin saling mengenal
ada yang tak melakukan apapun namun kebermanfaatannya terasa luas
ada yang melakukan berbagai hal agar dapat menginspirasi
ada yang hanya ingin diam tak melakukan apapun
ada yang ingin didengar oleh semua orang
ada yang ingin tak dilihat
ada yang maunya selalu dipandang manusia
ada yang tidak dikenal di bumi namun harum di langit
ada yang terkenal di bumi namun tak diinginkan akhirat
semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing
semua orang berharap dari apa yang dia lakukan berbuah kebahagiaan
semua orang menginginkan apa apa yang terjadi hari ini akan berakhir baik
tidak apa berhenti, asal nanti mulai lagi
tidak apa mengambil jeda yang penting nanti dilanjutkan lagi
tidak apa untuk terus bergerak asal tak pernah memaksakan kehendak.
dari kesemua orang itu,
apa apa yang dilakukan akan berbuah pahala tergantung niatnya.
niat baik saja tidak cukup, tapi harus disempurnakan dengan alasan karena Allah.
semoga, apa apa yang kamu, aku dan kita semua lakukan selalu berujung pada sebab karena Allah
Selasa, 28 Mei 2019
Mungkin tulisan ini hanya satu dari sekian banyak tulisan yang dibuat oleh orang orang yang ingin menceritakan bagaimana rasanya menjadi penerima manfaat dari Dompet Dhuafa.
Kita akrab manggil Dompet Dhuafa as DD. Dalam salah satu pertemuan, kita diminta bersyukur dan berterima kasih sama para dhuafa, kalo gak ada dhuafa namanya Dompet doang 😅🙄
Nah,
Sebagai penerima manfaat DD banyak banget yang kita dapetin, bahkan sangking banyaknya sampe lupa apa aja yang udah dirasain. Tapi beneran, setiap ketemu sama orang DD itu bisa meningkatkan ruhiyah dan semangat bermanfaat untuk umat berkali lipat.
Jadi disalah satu training, kita dibina sama orang keren dari DMC atau disaster management center. Kita diajarin banyak hal, banyaaaak banget. Tentang konsep bencana, apa itu bencana sampe apa yang harus kita lakukan kalo ada bencana. Bahkan hal apa yang bisa kita lakukan kalo ada bencana.
Saya seneng banget denger cerita cerita tim DMC ketika terjun menolong bencana. Saya selalu suka sama ide ide tim DMC. Mereka engga pernah mainstream. Ketika udah banyak yang bantu di dapur, logistik, dll, DD dengan kreatif nya nyari ide lain buat nolong mereka.
Kaya,
Misalnya pas banjir, orang DD bikin servis motor gratis. Atau laundry baju gratis. Dilain tempat justru malah ngasih layanan pijet gratis.
Rasa rasanya itu ide mainstream banget gitu 😅
Bahkan sampe kaya gak kepikiran buat ngadain sesuatu hal yang luar biasa gitu. Bayangin aja, ketika banjir orang orang mikirnya langsung pengungsian, baju, makanan, sekolah dll. Tapi DD bikin tempat servis motor gratis dong 😂
Menurut saya ide DD itu kreatif dan manfaatnya terasa bagi orang luas. Nolong tanpa pamrih dan siapa aja ditolong tanpa pilih pilih. Manfaat dari DD bisa dirasakan oleh semua orang.
Selain itu, DD itu suka banget bantu dalam bidang pemberdayaan manusia. Nah menurut saya ini juga keren. DD itu selalu ngasih pertolongan ke yang membutuhkan, tapi nolongnya itu dalam bentuk pemberdayaan yang nantinya ketika orang itu udah berdaya dan bisa memberdayakan orang lain, DD langsung pergi gitu aja. Bener bener pergi dan ngelepas tanpa minta timbal balik.
Duh kalo lagi pembinaan sama DD tu rasa rasanya mau nangis terus ngeliat betapa banyak orang yang butuh bantuan dan betapa kecil hal yang bis kita lakukan sendirian. Oleh karena itu kita perlu berpartner dan DD itu selalu keren dengan kolaborasi yang terus dilakukan dengan berbagai pihak. Bahkan DD hari ini udah sampe ke Hong kong, Australia, amerika.
Di DD Hong Kong mereka bikin program buat para TKI biar gak shock culture ketika harus pulang lagi ke Indonesia. Karena katanya mantan TKI itu sudah terbiasa hidup disiplin dan ketika ngeliat keluarganya di Indonesia hidup berantakan, mereka gak kuat, sering berantem kemudian pisah. Program DD Hong Kong salah satunya untuk mengurangi angka perceraian. Nah yang ini diceritain sama PM BaktiNusa yang pernah dikirim ke Hong-Kong.
Apalagi?
Program Rumah Siap Kerja.
DD itu ngeliat banyaknya pengangguran, akhirnya mereka buat rumah siap kerja yang isinya orang orang putus sekolah diajarin tentang reparasi alat elektronik. Setelah mereka punya keahlian dan bisa bikin usaha, DD langsung lepas gitu aja.
Bahkan kalo kalian ke Zona Madinah di Parung, DD punya banyak tempat pemberdayaan yang akhirnya sudah dilepaskan karena mereka bisa berdiri sendiri.
Gitu.
Terlalu keren DD itu kan.
Dan,
DD itu punya banyak beasiswa.
Saya termasuk yang hopeless ketika kuliah S1, gatau harus apply beasiswa apa karena semua butuh SKTM. Ketika ngeliat baktinusa, langsung lah berbunga bunga. Semuanya ada disitu.
Tahun 2017 apply dan alhamdulillah nya lolos, panjang lah ceritanya dan Allah baik banget ngizinin saya jadi bagian dari BaktiNusa ini.
Terus, selama di baktinusa banyak banget yang mengingatkan tentang kita ini harus bermanfaat buat orang lain, jangan sampe keberadaan diri kita gak ada manfaatnya.
Setiap kumpul kita selalu dibuat bermimpi sekaligus resah. Resah ngeliat Indonesia, resah ngeliat umat muslim dan resah dengan berbagai kondisi yang ada. Setelah resah, kita diajak merencanakan hal apa yang bisa kita lakukan untuk perbaikan di dunia ini.
Ah, saya banyak berpikir setelah di baktinusa ini.
Pun juga kita diwajibkan untuk memiliki ade ade binaan agar kebermanfaatan yang kita rasakan bisa dibagikan dan diteruskan oleh mereka.
Angkatan saya punya 64 PM, setiap orang minimal punya 8 binaan, 64×8 = banyak. Belom lagi dari angkatan pertama sampe sekarang. Dan lagi, setiap regional baktinusa punya gerakan sosial nya sendiri. Dan DD punya banyak program beasiswa selain baktinusa.
Huhuhu, kebermanfaatan itu semakin luas 😭😭😭
Diakhir temu nasional baktinusa, kita dengerin orasi terbaik dari ka panji PM BaktiNusa Bogor, ketua BEM IPB tahun 2017.
Ka panji berorasi hebat yang akhirnya ngebuat kita seruangan kembali berpikir. Yang akhirnya ngebuat diri ini ngerasa beruntung sekaligus sedih karena..... Selama ini kita dibina dengan uang ummat 😭😭😭😭
Bisa cek videonya di account Instagram DD pendidikan.
Sedih rasanya mengingat banyaknya orang orang yang zakat infaq sedekah di DD dan uang mereka salah satunya mengalir di darah penerima manfaatnya 😭
Kata ka panji lagi, betapa jahat nya kita kalo setelah uang umat itu mengalir di darah kita kemudian kita engga kembali ke umat.
Ah.
DD itu terlalu.... Apa ya.
Saya gatau apa yang sedang merasuki orang orang yang kemudian sibuk mengkritisi sampai menghina DD bahkan mengatakan kalo DD itu berafiliasi dengan salah satu partai bahkan sampe ke ISIS.
Emang pas kita masuk baktinusa pun bertanya tanya, DD ini "punya siapa." kita semua paham maksudnya apa. Dan hal itu saya tanyain ke supervisor baktinusa, mereka balik nanya, maksudnya punya siapa itu gimana. Ya saya juga bingung tapi biasanya lembaga gini ada yang punya.
Eh mereka cuma senyum dan bilang DD punya umat. Sederhana banget gitu.
Kesini sini akhirnya itu saya rasakan. DD emang punya umat. Gapernah sekalipun kita ngomongin bahkan diarahkan untuk menjadi bagian dari satu hal. Kita hanya mendiskusikan banyak hal, semuanya, semua yang bener bener semua hal kita diskusikan.
Jadi aneh aja rasanya orang orang yang baru sekali ngeliat laporan keuangan DD tanpa mengkaji lebih jauh atau melihat tweet, postingan dll langsung dengan mudahnya memberikan stigma negatif hingga akhirnya masyarakat beropini yang sama.
Saya siap sedia kalo ada yang mau diskusi tentang DD walaupun saya gatau banyak banyak banget tentang DD. Tapi rasanya dua tahun dibina DD cukup untuk mengenal, merasakan dan memahami apa itu DD dan apa yang dilakukan oleh DD.
Sebagai salah satu penerima manfaatnya, saya mungkin menjadi orang orang yang tak terlihat ya. Tapi percaya deh, banyak banget orang orang keren yang pernah merasakan manfaat DD.
Kaya, ketua PPI Dunia yang sekarang (lupa namanya) pernah jadi PM baktinusa.
Salah satu pendiri BEM SI pernah jadi PM Beasiswa Etos.
Kemudian ketua ketua bem, ketua lembaga, dll banyak yang jadi PM baktinusa.
Mereka mereka itu orang keren yang dibina dompet dhuafa. Jadi rasanya bersyukur banget kenal DD dan orang orang keren di dalamnya.
Sedangkan saya? Ah saya mah apa atuh heee.
Sekarang "cuma" sibuk jadi Perantara Kebaikan.
Iya, karena saya belom baik tapi ternyata banyak orang yang butuh pertolongan orang baik, akhirnya saya memutuskan untuk jadi perantara kebaikan. Yang menghubungkan orang orang yang saling membutuhkan biar kena pahalanya juga hehehhe.
Senin, 27 Mei 2019
Rasanya keren, menjadi anak yang mendapatkan predikat bandel, susah diatur pun juga menjengkelkan.
Katanya membosankan menjadi anak baik, pintar dan disayang guru. Katanya menjadi anak yang seperti itu memiliki banyak haters, apalagi dari kalangan murid. Tak jarang sebutan carmuk eksis terdengar.
Bagiku, menjadi anak bandel sangatlah tidak mungkin dilakukan. Rupanya menjadi orang yang sudah besar, benar benar bisa merasakan yang benar dan salah. Tapi masalahnya adalah perjara mau atau tidak meninggalkan perbuatan salah dan terus berbuat baik dan benar.
Dan, agak sulit bagiku menjadi yang benar-benar benar, seratus persen baik, pintar dan dikenal semua guru.
Aku menjadi anak yang so-so dimanapun kapanpun. Bagiku keseimbangan harus dijaga, maka tugasku adalah menyeimbangkan dengan tidak menjadi yang terpintar pun terbandel.
Tapi rupanya aku lebih dominan ke arah baik, sehingga dari dulu sampai sekarang paling tidak suka bermasalah dengan guru. Lain halnya dengan teman teman lain yang sangat bangga berhasil membuat guru keluar kelas, menangis, marah marah.
Aku bertanya tanya, bagian mana yang serunya?
Selanjutnya, waktu berjalan.
Aku benar-benar menjaga hubungan baik dengan orang orang yang telah bersedia memberikan ilmunya pada ku.
Sampailah akhirnya aku pada posisi menjadi seorang pendidik. Ku pikir menyenangkan. Mengajar bimbel, privat, dan lain sebagainya. Semua menyenangkan. Favorit ku adalah mengajar privat.
Aku benar benar dapat mengenal murid secara personal sampai ke keluarganya. Mengetahui cara apa yang baik dilakukan untuk tindakan pembelajaran, mencari tau kenapa sulit belajar dan lain sebagainya.
Menyenangkan memiliki orang tua murid yang bisa diajak kerjasama.
Tahun 2017 aku mulai praktek menjadi guru betulan. Sekolahnya baik, dengan pendidikan karakter terbaik, dan lain sebagainya yang baik baik. Tapi tetap rupanya mendidik anak dalam jumlah besar tidak pernah mudah.
Aku mulai kewalahan.
2018 pertengahan, aku mulai menjadi guru betulan. Betul betul menjadi guru. Tanpa guru pamong, tanpa dosen pembimbing. Semua dibawah pantauan kepala sekolah langsung.
Rasanya? Menakutkan.
Aku belajar sekali tentang betapa sulitnya mendengarkan, tidak mudahnya memperhatikan dan ternyata untuk tidak berbicara bukanlah hal yang mudah bagi beberapa orang.
Berbagai peraturan dibuat, tapi ternyata yang mengingat peraturan tersebut hanyalah yang membuat peraturan, yang lain hanya mengiyakan tanpa peduli. Besok lusa akhirnya mereka berbuat semaunya terus menerus.
Banyak sekali hal hal yang baru ku ketahui setelah menjadi guru disana. Terlalu banyak sampai membuat kepala mau pecah. Banyak waktu yang akhirnya habis karena kebanyakan digunakan untuk berfikir. Banyak sekali yang difikirkan.
Sekali waktu, saat melihat kelakuan mereka yang diluar kendali, aku berfikir akan hidup seperti apa mereka diwaktu yang akan datang?
Mereka akan berbuat seperti apa dan lain sebagainya.
Diperjalanan selepas mengajar, ku habiskan dengan bicara sendiri. Memikirkan benar atau salah sesuatu yang telah ku lakukan.
Banyak mempelajari tentang adab sebelum ilmu sampai bagaimana cara memperlakukan orang yang lebih muda dengan baik.
Mulai memikirkan banyak hal namun rupanya praktik tidak pernah mudah. Kadang belum selesai melakukan apa yang sudah direncanakan, kesabaran ku sudah habis hingga akhirnya ku keluarkan ceramah panjang atau aku keluar kelas demi menjaga kedamaian hati.
Aku bertanya dan banyak yang menjawab apa yang ku rasakan hari ini pada murid adalah buah dari perlakuan ku ke guru waktu menjadi siswa.
Beberapa teman ku hubungi, ku tanyakan bagaimana sikap ku ke guru pada saat sekolah. Rupanya sikapku cukup beragam. Kadang baik, kadang iseng, kadang menyebalkan, kadang benar, kadang susah diatur, kadang menjadi pengatur terbaik.
Barangkali iya, aku sebandel itu.
Tapi aku ingat tidak pernah tidur ketika guru menerangkan materi, tidak pernah menjawab ketika sedang dimarahi, bahkan selalu berusaha mengerjakan tugas walaupun akhirnya salah semua.
Kadang berfikir untuk menyerah, terpikir bahwa aku bukanlah guru yang baik. Sesekali berfikir bahwa sebenarnya aku tidak bisa mengajar. Sering cerita ke teman teman sesama guru dan rupanya setiap orang memiliki tantangan hidup masing masing.
Bertahan dalam profesi ini adalah sebuah keinginan yang kuat. Mengingat betapa menyenangkannya memiliki orang orang yang mendengarkan kita berbicara, menghibur bahkan mendoakan dalam berbagai hal walaupun lebih sering menguji kesabaran.
Menjadi guru memang tidak pernah mudah, tapi mudah mudahan apa yang kita lakukan hari ini adalah upaya untuk memudahkan jalan kita di kehidupan berikutnya.
Semangat cikgu!
Jumat, 24 Mei 2019
Si Korban Keegoisan
Mereka tak tau apa apa,
mereka tak bisa memilih,
Mereka ingin marah, tapi tak pernah tau pada siapa amarah harus disampaikan.
Mereka ingin menggugat, ingin menuntut, ingin menyampaikan apa yang selama ini dipendam sendirian.
Mereka seingin itu akan banyak hal, namun tak ada tempat untuk menyalurkan....
Barangkali ada yang pernah menanyakan,
Kenapa?
Ada apa?
Mau cerita?
Dan berbagai pertanyaan yang seolah olah menunjukkan kepedulian.
Namun, bersama hadirnya pertanyaan itu, justru mereka segera menerbitkan senyum yang selama ini disimpannya baik baik. Bagi mereka bahkan kebaikan dunia tak perlu diberikan senyuman.
Hanya saja pertanyaan pertanyaan yang seolah peduli itu mampu dengan mudahnya menghasilkan senyuman. Dan tak ada satupun yang bertanya apa makna senyum itu.
Terlebih lagi jawaban sederhana tidak apa apa yang kemudian muncul. Sebuah senyuman yang hadir bersama jawaban tidak apa apa yang hadir atas pertanyaan kenapa mu itu, justru menunjukkan sebuah kejelasan suatu masalah.
Barangkali karena terlalu rumit, tak ada kata yang mampu ia sampaikan atau bagian terburuknya adalah,
Memang kamu peduli?
Paling kamu hanya ingin tau kan?
Kemudian menyampaikan nya ke semua orang.
Atau palingan kamu tidak jauh jauh dari ingin memenuhi hasrat kekepoanmu dan semua selesai setelah kau tau. Dengan satu dua nasihat kau pikir semua selesai.
Tidak semudah itu ferguso.
Itu bagian termenakutkannya.
Ketika senyum, kemudian katanya tidak apa apa, padahal di dalam hati mereka menanyakan ketulusan.
Sudah terlalu banyak yang mengecewakannya, jadi lebih baik tidak memberi tahu apa pun pada siapapun.
Begitu katanya,
Begitu pikirnya.
Akhirnya mereka diam dengan diri mereka sendiri.
Merusak, membebaskan, melepaskan dengan cara cara yang menurut orang kebanyakan tidak benar. Tapi akhirnya dia merasakan yang namanya hidup. Berbuat semaunya, melakukan sesuatu seenaknya.
Mereka lalu berpikir pendek,
"oh jadi ini rasanya jadi orang tua. Berbuat sesuka hati, melakukan sesuatu tanpa memikirkan orang lain. Masa bodoh ada tangggung jawab kemudian. Asalkan tidak bahagia, tinggalkan. Asalkan bahagia, lakukan. Menyenangkan sekali jadi orang tua. Tak peduli dengan anak anak yang pernah mereka harapkan. Ah apa benar pernah berharap memiliki anak?
Menyenangkan betul menjadi diri sendiri, tanpa peduli apa yang dipikirkan orang. Asik sekali rupanya menjadi egois."
Miris, mereka memilih jalan yang itu.
Memutuskan menjadi nakal kata orang orang, padahal sejatinya mereka hanya korban atas keegoisan. Atas keputusan orang orang yang berkeluarga tanpa disertai ilmu yang memadai. Mereka tidak memilih, mereka tidak meminta, mereka tidak tau besok lusa hidupnya menjadi seperti itu.
Namun ada pula orang orang yang mendapatkan kasih sayang dari mereka yang penyayang. Mereka terselamatkan hingga akhirnya menjadi sebaik baik manusia. Menjadi jawaban bahkan menyerukan pentingnya edukasi sebelum memutuskan untuk hidup bersama kekasih hati.
Pentingnya sebuah kesabaran, kepercayaan dan kemampuan lainnya agar dalam suatu hubungan tak lagi ada yang namanya korban.
Mereka menjadi sebaik baik manusia, mereka menyerukan pada kebaikan dan mengajak menjauhi pelarian negatif. Mereka benar-benar sebaik baik manusia dalam keterbatasan kasih sayang.
Ku berkaca pada setiap kisah nyata maupun maya. Ku memetik hikmah dari setiap ketakutan dan ketaatan. Ku menuliskan kisah dari setiap yang ku tau, ku ingin tau, dan ku pikirkan.
Kali ini ku ingat tentang mereka yang menjadi korban orang tuanya hingga akhirnya menghilang tanpa kabar.
Aku dari sini mendoakan semoga kamu baik baik saja dan terus bahagia sampai surga.
Ku pun menambah satu list baru dalam doa, agar kelak, besok lusa atau jika Allah beri kesempatan di bumi, semoga keberadaan ku tak pernah menghasilkan air mata dan kecewa pada hati setiap manusia. Terutama dia yang Allah titipkan dengan kepercayaanNya untuk ku belajar memetik segudang hikmah berikutnya.
Kamis, 23 Mei 2019
Pagi ku berkabar duka, tentang seseorang yang telah berpulang. Melanjutkan hidup di masa berikutnya.
Aku pernah berfikir, selama apa kita "menunggu" kiamat di alam sana?
Apa yang akan terjadi di diri kita selama masa "penantian" itu?
Sesekali ku lihat nisan bertuliskan tahun tahun kepulangan yang jauh lebih lama dibandingkan usiaku.
Bagaimana nasib ku kelak?
Apa yang akan ku lakukan ketika tiba nanti waktu ku yang akan masuk ke dalam sana?
Lancarkah lisan ku?
Ataukah penuh siksaan.
Sedari dini, aku selalu berdoa agar Sang Pemilik diri ini mengizinkan ku berpulang dalam kondisi sebaik-baiknya sampai ke surga. Walaupun ku sadari bahwa tak jarang ku dengan sengaja berbuat dosa atau lalai karena menyepelekan kesalahan.
Sekali waktu aku berkhusnudzon bahwa dosa ku telah diampuni, kemudian aku berfikir lagi apa iya pantas dosa dosa ku diampuni dengan ibadah yang sangat minimal ini?
Kepulangan gurunda, ulama, dan yang mampu menggerakkan masa menuju kebaikan membuat banyak orang kali ini mengingat kematian. Aku kemudian iri, sungguh hebat seorang ulama, bahkan kepulangannya untuk melanjutkan hidup berikutnya pun tetap menjadi nilai dakwah.
Aku berkhusnudzon kemudian iri dengan mereka yang kemudian mempersiapkan kepulangannya.
Aku pernah memikirkan bahwa sejak masa Rasulullah, telah disampaikan bahwa kiamat sudah dekat, sebentar lagi. Pun juga sampai hari ini, walaupun makin dekat, tetap tak ada yang yang tau.
Aku berfikir, bagaimana jika ternyata sebentar lagi itu masih 200 tahun lagi? Usiaku paling jauh mungkin 63 sesuai standar usia Rasulullah. Lalu dalam masa penantian menuju kiamat, apa yang akan terjadi dengan diriku, jasadku dan segudang hal lainnya.
Ya Allah,
Semoga segala sesuatu yang baik, selalu Engkau berikan bersama hamba.
Rabu, 22 Mei 2019
Beberapa waktu lalu kita sudah memutuskan untuk memilih. Dan terakhir, yang ku tau tentang makna kebebasan adalah bebas untuk memilih disertai dengan pertanggungjawaban atas pilihan tersebut.
Kupikir semua sederhana. Semua mudah. Kamu pilih mana yang baik menurutmu, menurut kepentingan mu, menurut urusanmu. Kamu pilih segala sesuatu yang akhirnya memudahkan dirimu dalam menjalankan sesuatu.
Itulah alasan terkuat kenapa kamu memilih sesuatu.
Tapi ada alasan alasan lain.
Orang orang memutuskan sesuatu karena menjadikan Allah sebagai alasannya.
Seperti yang pernah ku dengar, ada seorang wanita yang mengatakan memutuskan menutup aurat secara sempurna karena Allah yang memerintahkan. Katanya lagi, kalo Allah tidak memerintahkan untuk apa dia melakukan sesuatu. Berbuat baik pun demikian, entah berapa kali Allah perintahkan untuk berbuat baik, oleh karena itu dia memutuskan untuk berbuat baik.
Kita bebas memilih sesuatu, pun juga dengan memilih alasan untuk menjadikan sesuatu itu sebagai pilihan kita.
Sampai disini, semua mudah. Karena ini hanya berhubungan dengan diri sendiri.
Namun belakangan ini, ah tidak. Rupanya sejak islam datang, sudah ada orang orang yang merasa paling benar dengan pilihannya. Ada kaum kafir Quroisy yang mati matian memaksa orang untuk tetap bersama agama lamanya dan meninggalkan Islam yang dibawa Rasulullah.
Permasalahan mulai terjadi ketika orang orang mulai merasa paling benar. Pilihan yang ia ambil seolah-olah pilihan yang paling benar dan pilihan orang lain adalah yang paling salah. Begitu.
Dan dari situlah semua menjadi berantakan.
Aku kadang sakit, hatiku rasanya terluka ketika ada orang yang merasa paling benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Kemudian aku berfikir, kalau aku sampai merasa sakit karena kalimat nya, tidakkah sesungguhnya aku juga sedang merasa paling benar sendiri?
Aku diam, namun tak henti membaca berbagai tulisan orang orang. Ruang demokrasi hari ini semakin luas. Via story whatsapp misalnya. Pun juga ku pikir setelah memutuskan untuk tidak membuka instagram, hidup ku lebih damai. Iya, benar memang, tapi ternyata whatsapp pun tak kalah bergejolak.
Aku sedih melihat orang orang yang mengatakan untuk apa ada agama jika hanya melahirkan aksi aksi atas nama agama yang disalah artikan.
Aku juga sedih melihat orang orang yang membela orang lain dengan cara menjelekkan saudara sendiri.
Sebagai anak polisi, aku pernah sedih melihat orang orang baku hantam dengan polisi. Pernah melihat aksi masa secara online dengan tujuan mengkritisi keberpihakan polisi.
Hari itu aku paling depan menyuarakan, polisi yang mana yang kalian tuduh. Orang yang mana yang kalian maksud.
Sekalipun mereka yang menyerukan aksi online itu adalah orang yang ku kenal sendiri pun juga mereka yang bergelar mahasiswa.
Sebagai seorang anak, tak ingin sedikitpun profesi ayahnya dihina walaupun disatu sisi aku juga sering dikecewakan oleh kelakuan polisi.
Dilain waktu, saudara sesama muslim yang dihina oleh saudara muslim lainnya. Yang aksi menyalahkan yang tidak aksi, yang tidak aksi menghina yang turun aksi.
Semua merasa benar. Semua merasa baik. Semua sibuk mengkritisi lawannya masing masing.
Tak ada yang benar-benar benar sampai dia melakukan sesuatu karena Allah. Tak ada yang benar-benar benar sampai dia melakukan sesuatu sesuai tuntunan Rasulullah. Tak ada yang benar-benar benar sampai nanti Allah yang beritau mana yang benar dan salah.
Yang ingin ku katakan,
Apapun pikiran mu, apapun jalan pilihanmu, apapun alasan dibalik sikap sikap mu, apapun yang menjadi landasan utama mu dalam melakukan sesuatu, apapun itu, jangan pernah sekalipun kamu merasa yang paling benar kemudian menyalahkan yang tidak sepemikiran.
Bersibuklah kita dengan sesuatu yang baik menurut Allah, bermanfaatlah kita dengan segala sesuatu yang penuh kebermanfaatan menurut Allah.
Jangan kita biarkan setan datang ke kehidupan kita, kemudian menghancurkan persaudaraan yang muncul karena Allah ini.
Kita pernah tau bagaimana dinasti umayyah dan abbasiyah berdiri. Sudah tak cukup lagi kita tempuh jalan jalan yang seperti itu.
Biarlah kita sekarang hidup damai berdampingan. Menjalankan pilihan kita masing-masing dengan penuh kedamaian. Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas hanya mengaharap ridho dan balasan dari Allah semata :')
Sesungguhnya segala sesuatu yang baik hanya datang dari Allah, dan sesungguhnya segala sesuatu yang memecah belah adalah kesukaan syaitan :')
Semoga Allah jaga kita sampai surga :'
