Senin, 12 Maret 2018

Cordofa Leadership Camp

Cordofa Leadership Camp.

Jadi awal maret kemaren saya ikutan acara ini. Acara yang menurut saya seru pake banget dan banyak pembelajaran yang kemudian saya dapatkan.

Tapi sebelum saya mulai bahas acaranya, saya mau cerita dulu sesuatu yang membuat saya semakin kagum sama skenario Allah.

Ceritanya tanggal 16 Januari kemaren, saya sidang skripsi. Abis itu pikiran berkecamuk gitu kan, mempertanyakan abis ini ngapain dll. Terus di grup sekolah tuh emang lagi ngebahas dan mewacanakan buat liburan bareng gitu entah kemana. Karena masih kangen Entikong dan pengen liburan nya bermanfaat juga, gak cuma sekedar jalan jalan, akhirnya saya bilang ke yang lain buat ikut trip ke baduy. Biar konkret, saya gugling juga si tentang opentrip to baduy, terus share ke yang lain.

Tapi yaaaa namanya tim wacana, segala sesuatunya hanya wacana. Hahaha

Kemudian trip ini pun terlupakan, tapi saya masih pengen banget ke baduy, tracking dan ketemu lingkungan baru. Pengen pake banget. Tapi gak didoain juga si 😅

Terus udah tuh, semua terlupakan karena saya heboh ngurus pemberkasan. Dan baru clear tanggal 20. Setelah itu barulah bisa hidup dengan tenang.

Selanjutnya, ketika akhirnya bingung lagi mau ngapain, eh di grup LDK, mas'ul w ngeshare  undangan dari cordofa dompet dhuafa. Isinya tentang permohonan delegasi buat ikut acara itu ke baduy. Gapake lama, langsung pc mas'ul dan bilang saya ikut pak.

Dan semuanyaaaa berjalan begitu saja. Tentang perlengkapan yang bisa minjem kemana mana, tentang kemudahan kemudahan yang didapatkan, tentang perjalanan yang penuh pembelajaran.

Ketika akhirnya saya menginjakkan kaki di bumi baduy yang tanpa tiang listrik dan kabel nya, saya kembali mengingat betapa beberapa minggu lalu saya pengen banget ke baduy tapi gak cuma sekedar trip. Saya pengen belajar dan dapet ilmu banyak di baduy.

Kemudian Allah dengan SkenarioNya yang Maha indah, menghadirkan Cordofa Leadership Camp di baduy. Saya gangerti lagi si, ke baduy nya dapet, materinya juga dapet.

Tapi.....

Sebenernya ada hal yang saya tinggalkan dan menurut saya harga yang perlu dibayar terlalu mahal karena meninggalkan hal tersebut demi ikut CLC ke baduy ini. Mahal banget. Banget banget si.

Tapi entahlah, mungkin kalo ada di kondisi yang sama lagi, saya masih tetep akan memilih untuk ikut clc ke baduy, no matter what.

Satu hal yang kemudian saya sadari, i know nothing about this world. So I need to go around the world. I need it.

Kamis, 08 Februari 2018

Sebuah Dialog Imajiner

"Bu, masih kuat?"
"Masih pak."
"Di depan ada tanjakan, bantu dorong bisa?"
"Bisa in syaa Allah."
"Maaf ya bu, harusnya kamu gak menjalani hidup seperti ini."
" *tersenyum sempurna.*"

Karena sempurna bukan berarti segalanya berhasil kamu miliki. Cukup dengan dia yang setia membersamai dirimu dalam berbagai kondisi.

Menguatkan dikala lemah,
Menghibur dikala duka,
Menangis dikala bahagia,
Mendorong dikala berjuang.

Mungkin dulu kamu pernah menjanjikan kehidupan yang baik setelah memutuskan untuk hidup bersama. Tapi Dia lebih tau kehidupan seperti apa yang baik untukmu dan dirinya.

Jangan pernah berhenti berjuang,
Jangan lelah untuk berdoa,

Setidaknya, dengan bersama, separuh agamamu telah disempurnakan.
Sisanya, tinggal berjuang bersama agar semakin dekat dengan Nya dan semakin jauh dari larangan Nya.

Semoga kalian selalu dikaruniai kebahagiaan.
Semoga kamu selalu bersegera dalam kebaikan.

Now I know I have met an angel in person and she looks perfect
- Perfect, Ed -

Kamu, jangan lupa ya,

Barangkali ketika langkah mu semakin jauh, pijakan mu di bumi semakin banyak, tempat tempat yang kau datangi semakin tak terhitung,

Barangkali disitu ada hasil keringat ibu mu yang mencari uang tak kenal lelah. Atau keringat ayah mu yang lama tak kamu lihat karena merantau tak kunjung pulang.

Barangkali diantara indahnya pemandangan pemandangan yang kamu lihat, ada pandangan ibu yang justru rindu melihat mu pulang.

Barangkali ditengah candaanmu dengan teman, ada ibu yang rindu bercanda canda dengan mu. Ibu yang rindu tawamu, ibu yang rindu tingkah lucumu.

Barangkali dalam semakin banyak langkah kaki yang kau jalani, ada ibu yang rindu sendiri mengingat langkah pertamamu. Ada ibu yang rindu melihat mu belajar berjalan kemudian berusaha menuntunmu tak kenal lelah.

Barangkali dibalik kehebatanmu mengarungi dunia, ada ibu yang rindu kehadiran mu di rumah. Ada ibu yang diam diam mendoakan kesuksesan mu sambil menyembunyikan bahwa ia rindu kamu pulang.

Bahkan pada Tuhan sekali pun, tak ia sampaikan rindunya kepada mu. Ia cukup meminta hidupmu baik, kamu sukses, dan kamu semakin bahagia di dunia dan akhirat.

Ia rindu keberadaan mu, namun tak pernah ingin mengganggu. Ia rindu bicara dengan mu namun tak pernah ia sampaikan.

Ibu adalah sebaik baik wanita penyimpan rasa, wanita teroyal dalam berdoa, terikhlas dalam mengabaikan rasa.

Kamu, sejauh apapun nanti jarak mu, jangan lupa pulang. Ibumu mungkin tidak menyampaikan, karena ia justru yang paling pintar dalam menahan perasaan.

-Request Tulisan dari Anto-

Kamis, 01 Februari 2018

Tentang gaenakan

Sekali waktu saya suka ngerasa gak enakan mau ngapa ngapain, kaya dikondisi sekarang misalnya. Mau keluar rumah, tapi karena ada tukang di depan pintu, mau numpang lewat aja rasanya gak enak bilangnya.

Gak masuk akal ya? Emang-_-
But it's true. Saya udah ketahan beberapa menit karena bener bener gak enak sekedar bilang permisi ke tukang yang lagi kerja.

Terus apakah dengan menulis menyembuhkan atau setidaknya membuat saya berhasil lewat?

Sebenernya engga sih hehe. Tapi ya gimana, sesekali saya merasa cukup dengan menulis atau bercerita. Well karena bercerita itu gak memungkinkan, maka menulis cukup menjadi obat.

Saya sering ngeledekin temen saya yang orang jawa, iya soalnya dia gak enakan, dan ketika jawanya keluar saya gak segan segan untuk bilang,

"dasar orang jawa!"

Gemes aja gitu kan kalo kamu ngeliat temen sekelasmu tertindas oleh orang lain dan akhirnya dia ngerjain tugas kelompok sendirian. Berbagai teori dan motivasi telah saya sampaikan agar tugas bisa dikerjakan bersama, dan dia bilang,

"gapapa na, gaenak gue bilangnya."

Okeee, fix jawa~

Terus kalo udah gitu saya cuma bisa gemes sendiri ngeliat orang jawa ini. Dan itu gak cuma satu dua ternyata. Kebanyakan orang jawa yang berhasil saya temukan, i mean dia yang besar di jawa, sifat nya itu begitu. Gemesin :3

Dan,saya yang juga punya darah jawa merasa konyol atas ini semua 😂

Can we stop the drama of gaenakan ini? 😂

Jumat, 19 Januari 2018

- Dalam sebuah kesempatan -

"ka, aku mau nanya dong."

"kenapa?"

"emang bener ya kata orang orang, kakak
mau lulus cepet soalnya mau nikah?"

"... Gosip darimana itu?"

"dari orang orang kak."

❣

Sini aku ceritakan rasanya.
Mungkin bukan hanya aku manusia yang hidupnya ditempa gosip. Tapi untuk gosip yang baik ini, mari kita aamiin kan sejenak.

Aku meyakini bahwa bersama setiap kebaikan orang selalu ada orang orang lainnya yang membicarakan kebaikan tersebut. Dan, bersama hal hal yang dibicarakan itu, selalu ada hal hal lainnya yang menjadi bumbu penyedap agar hal tersebut terus hits dibicarakan. Sepakat?

Dan, kamu tidak perlu menjadi sekelas Taylor Swift atau Zayn Malik untuk menjadi bahan pembicaraan orang orang. Kamu hanya cukup menjadi dirimu sendiri, atau manusia biasa lainnya seperti husna misalnya, untuk dibicarakan orang lain. Bonus tambahannya adalah digosipkan.

Uniknya, ketika mungkin kamu sedang leyeh leyeh di rumah, tidak melakukan apapun, tetap saja ada manusia disana yang membicarakanmu, mari berdoa semoga yang dibicarakan adalah kebaikan.

Dan, satu hal yang perlu kita tekankan adalah:

"apapun yang kamu lakukan, kebaikan kah atau sesuatu lainnya, akan tetap ada orang orang yang mengomentari kemudian menjadikan gosip gosip yang bahkan kamu kaget mendengarnya.

Dan, ketika hal ini telah terjadi, tugas kamu hanya satu : tetap melanjutkan kebaikan sambil terus berdoa agar prasangka prasangka baik orang lain kepadamu itu benar dan prasangka yang belum baik, Allah hapuskan dari dirimu dan orang lain."

Tugas kita hanya mencoba dan berbuat baik, karena Allah menyukai orang orang yang berbuat baik.

Kamis, 11 Januari 2018

Entah rumus darimana, tapi yang ku ketahui laki laki selalu mampu terlihat lebih kuat. Mereka mampu menahan duka kemudian menenangkan air mata yang berlinangan seolah baik baik saja.

Mereka tak pernah terlihat menangis bersama atau berduka bersama. Mereka diam menyembunyikan perasaannya kemudian membuat dunia seolah baik baik saja.

Mereka mampu tertawa ditengah lara, atau menertawakan duka yang sedang dihadapinya. Mereka mampu mengubah awan mendung gelap dan penuh guntur menjadi langit cerah, biru, berawan putih.

Mereka baik baik saja kelihatannya.

Belakangan, aku baru mengetahui bahwa dukanya lebih dalam dari duka semua orang.
Sakitnya lebih parah dari sakit yang orang lain rasakan.
Ia diam, tak berair mata, tak mengeluarkan suara, itu yang terlihat di depan mata.

Kemudian ku ketahui bahwa saat bersendiri, air matanya jatuh lebih deras dari siapapun. Isak tangisnya tak tertahan, nafasnya tak beraturan, ia sibuk menyalahkan dirinya atas segala duka yang terjadi.

Ia sendirian, berduka sendirian, menangis sendirian, menyalahkan keadaan sendirian.

Ia lemah, namun ia selalu terlihat lebih kuat.
Ia kuat, namun dibaliknya ada duka yang tak terlihat.

Jika ia mengatakan dirinya baik-baik saja, kamu hanya perlu untuk percaya dan jalani semua seperti sedia kala.
Karena kekuatanmu, menguatkannya.
Senyumanmu, membahagiakannya.

Setidaknya tersenyumlah dan berusaha untuk kuat, sebab ketika kamu berhasil melakukannya, ia akan berhenti menyalahkan dirinya, berhenti mengutuki dunia dan ikhlas bersama segalanya.

Minggu, 07 Januari 2018

Happy your day Rano dan Rahmi!

Memasuki tahun ke delapan bersama, akhirnya saya menyadari bahwa setiap manusia berubah dan berproses. Entah itu menjadi baik atau sebaliknya, tapi tidak ada satupun manusia yang pasti sifat dan karakternya.

Seorang Einstein menyampaikan bahwa satu satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Jadi, segala sesuatunya pasti tidak pasti dan akan selalu mengalami perubahan.

Pun begitu juga dengan teman saya yang satu ini.

Namanya Rano Setyawan, akrabnya dipanggil Rano.

Saya mengenal dia 8 tahun yang lalu melalui sebuah barisan pejuang upacara 17an. Selanjutnya pertemuan pertemuan kami selalu direncanakan karena kami sama sama memutuskan untuk berkontribusi lebih dalam hal upacara dan baris berbaris. Mudahnya, kami bersama beberapa orang lainnya memutuskan untuk bergabung bersama ekskul Paskibra.

Bersama drama drama dalam barisan, Rano pun membuat drama dalam kehidupannya yang sering kali memiliki efek samping terhadap kehidupan kami sesama angkatannya.

Rano, selalu hidup sesuka hati. Menjalankan sesuatu sesuai naluri. Tanpa memikirkan efek samping yang akan datang nanti.

Begitu kurang lebih sifatnya yang negatif.

Tapi, beberapa waktu ini, saya sedikit kagum dengan keberaniannya dalam menyempurnakan separuh agama.

Sekalipun saya bukan partner curhatnya yang setia, tapi saya cukup tau bagaimana drama drama kehidupannya yang luar biasa menyebalkan. Mungkin itu alasannya tidak memilih saya sebagai partner curhat : akan menjawab curhatnya dengan emosi perempuan.

Jadi, ketika dia mengatakan serius akan menggenapkan separuh agama, saya apresiasi dan menanti realisasi. Hingga akhirnya, kemarin yang disampaikan pun terjadi.

He really did it.

Bersama wanita tersabar yang bisa menghadapinya. Tidak hanya sabar, tapi sempurna untuk kehidupan Rano. Mereka berjuang untuk menyempurnakan separuh agama dan bersama sampai surga.

Bahwa dalam kehidupan yang pasti hanyalah ketidakpastian, Rano membuktikan bahwa ia tidak selalu bersama drama drama kehidupannya.~

Karena menyempurnakan separuh agama bukan hanya tentang pernikahan tapi tentang kehidupan selanjutnya.

Selamat menikah, selamat menempuh hidup baru, selamat menjalankan kehidupan selanjutnya!

Doakan kami agar bersegera dalam kebaikan!