Kamis, 27 Juni 2019

Kita gapernah tau usaha yang mana akhirnya akan Allah kasih keberhasilan. Kadang kita udah usaha ini itu, ikhtiar ini itu, namun gak mudah tetep untuk menemui hasilnya.

Kita ikhtiar sesuatu, gak pernah minta sesuatu itu secara jelas harus A misalnya. Atau kita minta sesuatu dan mau hasilnya adalah A.

Berdoa sesuatu jangan yang spesifik udah, ikhtiarnya juga. Berdoa sesuatu untuk yang spesifik juga udah, ikhtiarnya apalagi.

Tapi Allah selalu aja punya rencana lain~

Tahapan tersulitnya memang selalu tentang penerimaan. Ikhtiar yang beragam tak melulu menjadikan yang kita inginkan adalah sesuatu yang terjadi.

Pun juga dengan ikhtiar yang beragam, tak menjadikan sesuatu yang kita inginkan pasti diberikan.

Lagi lagi, Allah mengetahui sesuatu sedangkan kita tidak.

Ikhtiar kita yang banyak tak Allah berikan sesuai dengan yang kita lakukan, bisa saja lebih. Karena Allah lebih tau batas kebutuhan kita.

Rasa rasanya menulis tentang ini, mau seratus kali pun tidak akan pernah selesai pembahasannya. Tapi bagian terbaiknya adalah ketika tulisan seperti ini muncul maka sesungguhnya kita sedang ikhtiar untuk selalu berkhusnudzon atas ketetapanNya.

Jadi, bagi yang sudah ikhtiar, sudah usaha, sudah melakukan yang terbaik, sabar sabar dulu kalo belom Allah kasih yang kita inginkan. Karena Allah tahu yang kita butuh.

Allah tau, kita butuhnya sekarang apa, dimana dan bagaimana caranya. Kita gatau apa apa heee.

Sabar sabar ya, saya juga lagi bersabar atas suatu ketetapan yang Allah berikan. Bersabar atas kehidupan yang akan datang.

#AyoKeTengah

🌾

Minggu, 23 Juni 2019

Hindi Medium

Yak, setelah sekian lama tak cerita soal film, bukan berarti ku tak menonton film. Hanya saja semangat untuk sharing nya itu yang kudu dikuatkan. Ini aja baru mau nulis udah ngantuk, dududu. Dasar aku.

Film ini bagus banget si, tentang pendidikan, hasil rekomendasi temen kuliah. Dan sejauh ini, setelah nonton beberapa film rekomendasi dia, semuanya gak ada yang mengecewakan atau diriku aja yang mudah apresiasi? Hehe

Kita biarkan tulisan ini mengalir ya, entah muaranya kemana.

Ketika awal nonton film sebenernya so so aja, malah kaya ini film arahnya mau kemana si. Karena emang sebelum nonton gak serius nyimak triler dan gak baca sinopsis. Jadi pas nonton yang sambil ngerjain kegiatan lain pun awalnya sempet jenuh. Gak lama si.

Setelah itu mulai muncul banyak konflik yang diracik dengan sangat apik.

Setiap orang tua mau pendidikan yang baikbuat anaknya gak? Kalo saya si iya~

Begitu juga dengan kedua orang tua yang jadi peran utama di film ini. Berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik buat anaknya, apalagi ibunya. Usahanya cenderung maksa, udah gitu macem menghalalkan segala cara.

Background film ini di India dan ternyata pendidikan di sekolah negeri Indonesia di Jakarta khususnya jauh lebih baik dibandingkan di India sekalipun itu di Delhi (itu menurut filmnya ya) nah darisitu seolah olah sekolah di sekolah negri tu kayanya low level banget. Hanya orang orang yang buangan dari sekolah swasta yang sekolah disitu. Beneran buangan loh 😅

Terus, orangtua si Pia, anak yang mau masuk SD ini, melakukan segala cara sampe sampe dia nyamar jadi orang kurang mampu biar bisa diterima disitu sebagai keluarga miskin.

Ih gilak.

Seserius itu, mereka akhirnya nyewa rumah di pemukiman yang gitu la, tapi ternyata hidup miskin mengajarkan mereka banyak hal. Ketemu orang miskin yang hatinya semulia malaikat. Ma syaa Allah.

Dan, orang miskin ini mengajarkan banyak hal. Diakhir akhir, ketika semuanya terbongkar dan akhirnya si bapaknya Pia sadar yang dilakukan salah, orang miskin yang banyak ngajarin dia ketika pura pura jadi miskin itu bilang gini,

"kenapa orang miskin gak pernah ngambil hak orang lain, mungkin karena orang miskin gatau gimana caranya untuk berbuat hal itu."

Huhuhu, syedih aku tu.

Banyak sekali peran yang dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Ya memang ujung tombak sebenernya adalah pemerintah, rakyat kan udah kerja dan bayar pajak, masa iya harus berkorban lebih banyak lagi. Ya iya harus si, tapi sepemahaman saya, orang tua paling 'hanya' mendidik anaknya di rumah. Untuk fasilitas keperluan sarana dan prasarana ya harus diselesaikan oleh pemerintah.

Dan ya emang gada solusi si kalo misalnya berharap sama pemerintah, apalagi pendidikan Indonesia ini emang belom merata. Jadi banyak kalo diliat ke daerah pedalaman dll itu sekolah swasta dari orang orang baik yang emang pengen bantu pemerintah dalam memperbaiki pendidikan.

Tapi jadi banyak permasalahan ketika kita bicara pendidikan ideal yang bersumber dari aturan aturan pemerintah mulai dari permen permen, uu, sk dirjen, dst.

Jadi gada solusi:(
Pusying aku tu bahas pendidikan.
Tapi lebih pusing bahas politik.
Tapi ya gimana, kalo gak dibahas nanti gatau apa apa terus ngajar mau ngomong apa:(

Kenapa semua ini berkaitan ya gaes?
Dududu.

Dah, intinya, lakukan yang terbaik.
As long as you do best, even if you can't change the world, at least you change yourself ❤️❤️❤️

Sabtu, 22 Juni 2019

Malam ini saya akan bercerita, panjang. Sampai kamu tak tau lagi di sebelah mana akan kau temukan titik terakhir.

Hidup manusia ibarat langkah kaki. Entah langkah berikutnya akan mengantarkan pada kisah yang mana. Sesekali, kaki akan sulit menentukan langkah berikutnya, maka kaki akan diam di tempat sembari memerintahkan otak untuk berfikir. Kemana ya harus melangkah.

Ketika memutuskan untuk melangkah lagi, keraguan sesekali datang, oleh karenanya perlu lagi lagi tekat dikuatkan. Sesekali langkah kaki melambat, melemah, tapi sebisa mungkin jangan sampai berhenti jika belum waktunya berakhir.

Terus melangkah, sampai nanti Allah yang bilang selesai.

Begitu kira kira.

Membuat keputusan untuk melangkah kemana, bukan keahlian saya. Karena bagi saya, setiap keputusan memiliki konsekuensi besar. Memutuskan, diputuskan, dan membuat keputusan hanya jika benar benar saya yakin akan sesuatu hal.

Namun jika ragu, maka akan saya tunggu sampai Allah yang putuskan. Tukang cari aman, memang.

Tapi, kali ini, pada kisah yang ini, tak disangka sangka, Allah kuatkan saya untuk membuat keputusan.

Setelah menunda berbulan bulan, dari diskusi panjang bersama ibunda hadirlah beberapa rencana. Jika A maka B, jika B maka C, jika A maka bisa A B C dan seterusnya.

"nanti ya bu, nunggu keputusan Allah yang Z dulu. Setelah ada, baru nanti direncanakan lagi."

Begitu kira kira. Setelah berbulan, kemudian Allah hadirkan keputusanNya dan selalu yang terbaik. Sejatinya kita tidak perlu meminta sesuatu muluk muluk pun juga membenci sesuatu berlebihan. Hanya Allah yang tau mana yang baik buat kita dan mana yang tidak.

Hanya saja sebagai manusia, kita punya sesuatu yang dinamakan kecenderungan. Apakah kecenderungan terhadap A, B atau C. Tapi hasil akhirnya, Allah selalu berikan yang terbaik yang bisa mendekatkan diri kepadaNya.

Setelah hasil Z tadi keluar, maka mulailah rencana A B C dilaksanakan.

Salah satunya adalah mencari tempat yang mampu menumbuhkan rasa cinta kepadaNya menjadi lebih banyak lagi. Setelah pencarian yang cukup lama, sebenarnya tidak mencari, hanya menanti pesan yang mana yang kira kira Allah kirim untuk saya melalui tangan tangan baik manusia.

Setelah menemukannya, satu, yang dirasa cukup baik, dengan bismillah, diambillah keputusan itu. Diikhtiarkan. Kemudian diikhlaskan jika akhirnya tak harus bersama, ea.

Jarak waktunya cukup dekat, dari ikhtiar pertama sampai pengumuman diterima hanya berkisar beberapa minggu. Ma syaa Allah. Tidak ada rasa keinginan berlebih untuk ada disana, tapi rupanya Allah tau kalau hambaNya ini butuh banyak tempat baik agar terus menjadi baik.

Akhirnya, dimulailah segala sesuatu itu. Setelah lama berjalan lurus ke depan, melewati setiap yang ada, akhirnya dibuatlah keputusan untuk berbelok. Ragu memang, sedikit, khawatir apakah akan baik atau justru menghadirkan konflik batin.

Tapi dengan Allah in syaa Allah semua baik.

Namun, setiap awal memiliki akhir. Setiap akhir akan menemukan sesuatu untuk kembali diawali.

Dan disitu lah saya berada sekarang. Di sebuah akhir pada suatu kisah, untuk memulai sesuatu yang baru.

Sesungguhnya, segala yang dilakukan adalah serangkaian proses pembelajaran. Pun ketika mengajar, sesungguhnya kita sedang berproses untuk belajar. Semua guru semua murid. Dari guru, murid belajar tentang keilmuan pun kehidupan. Dari murid, guru belajar pendidikan, kesabaran, dan perjuangan serta banyak hal lainnya.

Anak anak sholeh dan sholihah yang selama satu tahun pelajaran ini sudah mewarnai hari harinya bu husna, seketika harus dicukupkan intensitas bertemunya. Tak lagi setiap hari, ataupun seminggu sekali, namun sesuai ketentuan Allah kapan waktu terbaik untuk bertemu.

Sulit memang ketika dirasakan apalagi ketika harus membuat keputusan. Tapi ternyata Allah Maha Baik.

"Ya Allah, saya punya rencana A B C, berikanlah kepada hambaMu ini sesuatu yang mendekatkan kepadaMu."

Bagian terbaiknya adalah Allah akan jawab mana yang baik atau bahkan memunculkan opsi yang baik berikutnya.

Semuanya baik, hanya jika kita meyakini bahwa segala sesuatu keputusan Allah baik. Jangan bersedih, karena dunia sementara sedangkan bertemu Allah adalah kebahagiaan selamanya ~

Kamis, 20 Juni 2019

Cenderung Kepada yang Baik



Manusia, fitrahnya memiliki hati yang bersih. Bagaimana cara membuktikannya?

Hari ini, banyak sekali kita temukan orang tua yang bersegera dalam mengajarkan Al  Qur'an kepada anaknya. Mengajarkan kecintaan pada Sang Maha, RasulNya dan orang orang sholeh.

Menanami mimpi mimpi besar.
Sejak kecil sudah di doktrin untuk mencintai segala sesuatu yang baik dan mau memperjuangkan sesuatu yang baik.

Alhamdulillah.

Sikap menyegerakan ini, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan orang orang yang sadar betul, bahwa fitrah manusia adalah memiliki hati yang bersih. Jika tidak dijaga kebersihannya sejak dini, maka banyak hal yang akan sulit dilakukan kemudian. Terutama amalan amalan kebaikan.

Anak anak, belum diajarkan Al Qur'an pun, hatinya akan cenderung pada Al Qur'an. Tak tau apa itu sholat pun, akan cenderung untuk mengetahui tentang sholat.

Hal ini terlihat jelas dari keponakan berusia menuju 15 bulan. Siapapun di rumah yang mau sholat, pasti akan "ditemani"nya. Pun juga ketika sedang memegang Al Qur'an di tangan.

Dirinya seolah cemburu dan ingin merebutnya. Akibatnya, ia bolak balik Al Qur'an sendiri sambil menggumam seolah-olah sedang mengaji.

Barakallaah keponakan sholihah.

Hati manusia, cenderung pada segala sesuatu yang baik. Dan ingin selalu meninggalkan yang tidak baik.

Namun, kenapa orang orang masih ada yang berbuat tidak baik dan menyakiti orang lain?

Jawabannya : karena fitrah kebaikan itu tidak dijaga sejak dini. Jadi hatinya kedatangan titik titik hitam, pelan pelan segumpal daging di dadanya berwarna hitam. Yang awalnya baik, akhirnya tertutup keburukan.

Akhirnya?

Beruntunglah orang orang yang Allah berikan hidayah dan menerima hidayah dengan sungguh sungguh.

Bersyukurlah karena "pernah bandel" namun Allah kembalikan kepada fitrah.

Lagi lagi, hati manusia selalu cenderung kepada kebaikan. Oleh karenanya, jika kamu merasa belum baik, maka berjuanglah terus menjadi baik.

Semoga sampai hembusan nafas terakhir, segala kebaikan selalu membersamaimu.

Kamis, 13 Juni 2019

Fenomena Stiker WhatsApp

Ada yang suka mainan stiker wa? Yang suka kasih respon dengan stiker wa?

Alhamdulillahnya, saya gak suka main stiker gitu. Lucu si, kalo pas lucu. Dan gak lucu, kalo stikernya yang muncul adalah wajah manusia. Walaupun mungkin ekspresinya lucu, tetep aja jadinya gak lucu.

Saya pernah jadi "korban" muka yang jadi stiker wa. Rasanya? Kok ya gak sopan. Muka orang dijadiin stiker dan disimpen seenaknya, kemudian dimunculkan sesuka hati.

Bermula dari perasaan yang tidak menyenangkan hati itu, akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakai stiker wa yang manusia itu.

Mungkin orang orang mikirnya, selera bercandanya rendah, gabisa diajak bercanda atau terlalu serius banget jadi orang.

Tapi.....coba liat,

Ini wajah punya Allah, sebaik-baik yang Allah kasih. Kalo "gak sengaja" memunculkan ekspresi lucu, apakah kemudian bisa jadi alasan untuk dijadikan bahan bercanda?

PR besar kemudian adalah upload foto. Duh saya masih belom lulus ujian ini. Masih suka upload foto dan foto foto. Apalagi foto rame rame. Sering ngerasa aman karena, "kan fotonya rame rame."

Padahal, muka saya yang dijadiin stiker itu adalah foto yang rame rame itu. Tapi ternyata masih juga ada tangan tangan kreatif yang ngejadiin muka saya stiker, dan itu muka saya doang.

Duh, kzl rasanya.

Tapi akhirnya jadi pembelajaran buat diri sendiri, jadi bahan evaluasi, pun juga pengingat diri ya.

Sekarang emang masih susah buat gak upload foto, tapi dikit dikit belajar. Pun juga berusaha biar pas foto, meskipun rame rame, mukanya ditutup jadi gabisa dijadiin stiker. Nah, sekarang juga udah lama gak foto bareng abang abang, mas mas, brother brother, biar gak diisengin dan disalah gunain.

Pada akhirnya, mau laki-laki, perempuan, mau grup yang isinya cuma perempuan doang atau laki-laki aja, sama si. Gak boleh "mempermainkan" wajah manusia untuk dijadikan bahan bercanda atau ekspresi yang dianggap lucu atau aneh.

Biarin aja kalo kangen ekspresinya, ajak ketemu, silaturahim, ngobrol langsung, bercanda langsung. Kan gitu lebih enak, bisa ngobatin rindu. Eh ✌️🙄

Sekian mohon maaf lahir dan batin kalo kurang berkenan ya. Sama sama jadi pengingat diri, mudah mudahan kita makin baik ke depannya.

Selasa, 11 Juni 2019

Jika diibaratkan anak panah, kamu pernah menarik mundur dirimu. Jauh, ke belakang. Tertinggal. Tapi percayalah, ketika akhirnya dilepaskan, maka kamu akan melesat jauh ke depan. Menuju target, dititik terbaik.

Sudah cukup berleyeh leyeh istirahat di tempat, sekarang waktunya kembali memperjuangkan yang perlu diperjuangkan.

Surga tidak didapatkan hanya dengan bersibuk di atas kasur. Kehadiranmu sungguh dinantikan, kalau pun bukan lagi ranahmu setidaknya mereka butuh bantuanmu yang pernah ada disana.

Pertemuan denganNya harus diperjuangkan dengan cara sebaik-baiknya. Karena Dia tidak akan bertemu langsung kecuali dengan orang orang pilihan.

Dan aku, siap untuk Kau pilih.

Senin, 10 Juni 2019

Anak Laut

Bagiku, bapak selalu hebat.
Tak pernah mengeluh walaupun sering marah marah.
Suaranya keras, maklum, tipikal suara orang yang tinggal di dekat laut. Hobi teriak teriak mengalahkan debur ombak.

Aku kadang kesal dengan warna kulitnya yang hitam, karena bapak hitam akhirnya aku pun juga jadi hitam. Sulit sekali menjadi putih bersih bersinar. Aku selalu tetap terlihat seperti anak laut.

Bapak ku hebat, walau sering membuatku banyak berdebat. Salah sendiri bapak menyuruhku sekolah tinggi tinggi. Mana bisa jadinya aku dibodoh bodohi.

Kata bapak, jadilah anak penurut, rajin membantu, selalu mendengarkan kata orang tua. Tapi ternyata sekolah membuat ku jadi kritis, banyak bertanya dan mempertanyakan. Bapak kesal, tapi salah bapak sendiri kenapa aku di sekolahkan tinggi tinggi.

Bapak bilang, coba tengok anak sebelah, mereka penurut, diperintahkan ini itu mau tanpa banyak tanya. Mereka diberi ilmu kemudian diingat lalu dipraktikkan. Kata bapak, mereka tidak seperti aku.

Biar saja, toh aku menjadi seperti ini lebih lebih dikarenakan bapak yang selalu menuntut ku untuk memiliki ilmu banyak.

Buat apa menerima ilmu tanpa tau fungsi, tanpa tau tujuan, tanpa tau efek samping. Coba saja bapak tanya kepada anak anak tetangga, siapa dari mereka yang tau kenapa harus berlayar di waktu malam.

Wahai bapak, aku ini cerdas.
Salah bapak menyekolahkan ku tinggi tinggi.

Bapak pernah sekali berubah pikiran, meminta ku untuk berhenti saja sekolah. Kata bapak, aku terlalu tidak bisa diatur. Kemudian bapak bilang, bukan itu tujuan dari pendidikan yang bapak inginkan.

Ku sampaikan dengan argumen yang akhirnya berujung debat panjang. Kataku, "pak, di sekolah itu kami hanya belajar baca tulis hitung. Perkalian, tambah tambahan kemudian mengenal alam dan belajar sejarah."

"sebelah mana lagi yang bisa aku terapkan untuk kehidupan sehari hari? Masa iya aku hanya mengenal nama nama pohon dengan istilah biologinya. Buat apa? Atau aku hanya menghafal nama nama pahlawan dan peperangan. Apa fungsinya?"

"bapak tentu tidak menyekolahkan ku untuk tujuan itu kan?" aku meledek bapak kali ini, bapak harusnya berpikir matang matang sebelum menyuruh ku sekolah tinggi tinggi.

Bapak tersenyum, aku tau bapak tidak suka debat dengan ku, tapi aku tau bapak bangga karena aku bisa berpikir.

Ku dengar dari penjaga warung sekitar, katanya bapak sangat bangga aku bisa menghitung uang kembalian disaat anak anak lain harus belanja dengan uang pas. Bapak bangga aku banyak bertanya ketika orang orang menyuruhku melakukan sesuatu yang bukan pekerjaan ku.

Kata bapak, orang cerdas tidak kerja dengan otot, tapi otak. Kata bapak, tempat ku bukan di laut, tapi di gedung tinggi ibukota.

Tapi hari ini aku memutuskan bahwa kerjaku di gedung tinggi ibu kota akan selalu ku gunakan agar bisa memanfaatkan dan melestarikan kehidupan laut dengan baik.

Kata orang orang, bapak bangga dengan ku. Dari sekian banyak anak seusia ku di kampung, hanya aku yang bersekolah tinggi. Bapak lebih bangga lagi karena aku akhirnya anak anak di kampung banyak yang ingin bersekolah tinggi.

Tau benar aku, bapak selalu hebat dan aku selalu bangga dengan bapak. Dan aku sangat menyukai keputusan bapak menyekolahkan ku tinggi tinggi.