7.
Akhir semester.
Hari ini, mayoritas manusia yang bergelar mahasiswa sedang sibuk di depan laptop, sibuk mencari sumber, sibuk mencari pencerahan atas tugas tugas.
Selalu begitu polanya.
Awal semester semangat, tengah semester sibuk organisasi, akhir semester sibuk uas. Lalu bagaimana caranya agar tugas2 uas ini selesai sebelum deadline atau minimal tepat pada waktunya?
Hari ini saya membuktikan, bukan dengan pergi ke perpustakaan, bukan dengan sebanyak-banyaknya sumber, bukan juga dengan sebagus-bagusnya media.
Yang pertama, permudah urusan saudaramu in syaa Allah, Allah mudahkan urusanmu.
Sederhana ya.
Bukan fokus di diri sendiri, tapi fokus ke orang lain.
Namun hal ini bukan berarti kita abaikan urusan sendiri. Tetap, kerjakan tugasmu. Kuncinya adalah...
Yang kedua,
Minta Allah yang menyelesaikan.
Manusia, kita gabisa apa-apa. Hanya sekedar membaca pun kalo gak Allah izinkan, ya gabisa.
Makanya jangan sombong.
Hinain diri depan Allah gapapa, asal jangan depan manusia.
Ya Allah,
Sesungguhnya tugas tugas uas hamba banyak.
Hamba mana bisa nyelesain ini sendirian.
Ya Allah, bantuin, temenin, tolong selesain dengan caraMu.
Gak mampu hamba nyelesain sendirian. Kalo Engkau yang nyelesain, udahnya bener semua, sempurna, cepet lagi.
Ya Allah, Engkau Maha Segalanya, sedangkan hamba hanya bisa bergantung kepadaMu.
Ya Allah, ridhoilah, aamiin
sometimes, you just need to share, and sometimes you need to keep it in your memory
Minggu, 12 Juni 2016
Sabtu, 11 Juni 2016
5. Lima
5.
Matamu selalu mampu membuat duniaku berhenti bergerak. Dalam hitungan sepersekian detik, aku tenggelam dalam tatapan matamu yang tajam.
Hari ini, ketika tak juga sapamu datang, justru Dia sedang persiapkan sesuatu yang lebih indah.
Rindu selalu menghasilkan usaha untuk bertemu. Namun ketika kata rindu terucap dan tidak ada usaha untuk bertemu, ada yang perlu ditanyakan dari definisi rindu itu.
Hari itu sore. Langit sedang cerah. Senja tak terlalu terlihat merah. Dan aku sedang sibuk mengejar matahari.
Ku kira, kecepatan matahari mampu membuatku mengabaikan semua hal. Terutama kamu yang ditemukannya cukup sulit.
Ku kira, aku mampu mengabaikan itu semua. Tapi tau tidak, justru saat dipersimpangan jalan itu, saat harusnya aku berlari lebih cepat dari matahari, lagi lagi aku tersedot matamu.
Mata tajam yang justru mengalihkan pandangan dunia.
"Matamu mematikan."
Lalu kupikir, "mungkin itu terjadi karena wajahku mengalihkan duniamu?"
#5Lima
#husnapunyacerita
#edisibaper
Matamu selalu mampu membuat duniaku berhenti bergerak. Dalam hitungan sepersekian detik, aku tenggelam dalam tatapan matamu yang tajam.
Hari ini, ketika tak juga sapamu datang, justru Dia sedang persiapkan sesuatu yang lebih indah.
Rindu selalu menghasilkan usaha untuk bertemu. Namun ketika kata rindu terucap dan tidak ada usaha untuk bertemu, ada yang perlu ditanyakan dari definisi rindu itu.
Hari itu sore. Langit sedang cerah. Senja tak terlalu terlihat merah. Dan aku sedang sibuk mengejar matahari.
Ku kira, kecepatan matahari mampu membuatku mengabaikan semua hal. Terutama kamu yang ditemukannya cukup sulit.
Ku kira, aku mampu mengabaikan itu semua. Tapi tau tidak, justru saat dipersimpangan jalan itu, saat harusnya aku berlari lebih cepat dari matahari, lagi lagi aku tersedot matamu.
Mata tajam yang justru mengalihkan pandangan dunia.
"Matamu mematikan."
Lalu kupikir, "mungkin itu terjadi karena wajahku mengalihkan duniamu?"
#5Lima
#husnapunyacerita
#edisibaper
Kamis, 09 Juni 2016
4. empat
4.
"Ka, aku home sick."
"Iya ka, mama sakit."
"Hehehe, ini hari pertama ka."
"Aku mah sabar aja ka."
Adik. Keempat adik yang tadi meluangkan waktunya untuk bertemu si kakak di tengah gunungan tugas. Sedikit sedikit saya jadi ingat, salah satu yang saya nantikan adalah ini, berkumpul bersama dalam satu lingkaran. Saya benar benar menyebutnya sebagai charging. Pengisi batrai, penguat ruhiyah.
Seringnya, kepenatan dalam hiruk pikuk tugas keduniawian menghilang begitu saja ketika ucapan salam dari mc terdengar. Dalam hati seolah ingin mengatakan, "aku siap melayang!"
Lingkaran. Sudah dari SMP sebenarnya, kalimat itu terdengar, walau agak asing di awal tapi ternyata membuat cinta diakhir.
Sedikit demi sedikit, bertambahnya usia, bertambahnya pemahaman, maka bertambah butuhlah akan duduk melingkar.
Jika hidup benar benar melelahkan, lalu rasanya tak ada yang paham, maka saat itu kita butuh duduk melingkar.
Hari ini, dihari ke empat, empat kepala menyampaikan hal yang berbeda. Selalu ada ilmu baru, selalu ada hikmah baru, selalu ada kisah kisah cinta baru yang tersampaikan.
Maka hari ini, jika kamu bertanya tanya apa itu duduk melingkar, maka temuilah aku disudut lorong. Akan kuceritakan semuanya sampai kau yang meminta lingkaran untukmu.
#4
#30harimenulis
#edisingelingker
#yukmentoring
#husnapunyacerita
"Ka, aku home sick."
"Iya ka, mama sakit."
"Hehehe, ini hari pertama ka."
"Aku mah sabar aja ka."
Adik. Keempat adik yang tadi meluangkan waktunya untuk bertemu si kakak di tengah gunungan tugas. Sedikit sedikit saya jadi ingat, salah satu yang saya nantikan adalah ini, berkumpul bersama dalam satu lingkaran. Saya benar benar menyebutnya sebagai charging. Pengisi batrai, penguat ruhiyah.
Seringnya, kepenatan dalam hiruk pikuk tugas keduniawian menghilang begitu saja ketika ucapan salam dari mc terdengar. Dalam hati seolah ingin mengatakan, "aku siap melayang!"
Lingkaran. Sudah dari SMP sebenarnya, kalimat itu terdengar, walau agak asing di awal tapi ternyata membuat cinta diakhir.
Sedikit demi sedikit, bertambahnya usia, bertambahnya pemahaman, maka bertambah butuhlah akan duduk melingkar.
Jika hidup benar benar melelahkan, lalu rasanya tak ada yang paham, maka saat itu kita butuh duduk melingkar.
Hari ini, dihari ke empat, empat kepala menyampaikan hal yang berbeda. Selalu ada ilmu baru, selalu ada hikmah baru, selalu ada kisah kisah cinta baru yang tersampaikan.
Maka hari ini, jika kamu bertanya tanya apa itu duduk melingkar, maka temuilah aku disudut lorong. Akan kuceritakan semuanya sampai kau yang meminta lingkaran untukmu.
#4
#30harimenulis
#edisingelingker
#yukmentoring
#husnapunyacerita
Rabu, 08 Juni 2016
3. Tiga
3.
Hari ini, jika Langit bertanya tentang nama nama manusia hebat, maka kalian adalah salah satunya. Tiga manusia yang Allah pilih untuk pundaknya diberikan tanggungan lagi. Bukan karena pundak itu paling hebat, paling kuat, atau paling lebar. Tapi justru karena pundak itu paling siap. Langit percaya bahwa itulah pundak terbaik untuk diberikan amanah.
Hari ini, kita siap menulis kisah tentang perjuangan. Bukan perjuangan seorang superman, tapi superteam. Tentang betapa hebatnya kita bersama dan betapa lemahnya saat sendiri.
Katanya, "kalian tanpa saya tidak apa apa, tapi saya tanpa kalian bukan apa apa."
Sejujurnya, jika semua saya berkata seperti itu, maka tak ada lagi kata kalian. Karena keputusan saya saya lah tercipta kata kalian.
Hari ini, ketika pundakmu terpilih untuk menjadi ujung tombak, maka tenanglah, akan ada sisi lain yang siap membersamai pundakmu. Pundak yang juga siap mengemban amanah.
#3
#30HariBercerita
#HusnaPunyaCerita
Hari ini, jika Langit bertanya tentang nama nama manusia hebat, maka kalian adalah salah satunya. Tiga manusia yang Allah pilih untuk pundaknya diberikan tanggungan lagi. Bukan karena pundak itu paling hebat, paling kuat, atau paling lebar. Tapi justru karena pundak itu paling siap. Langit percaya bahwa itulah pundak terbaik untuk diberikan amanah.
Hari ini, kita siap menulis kisah tentang perjuangan. Bukan perjuangan seorang superman, tapi superteam. Tentang betapa hebatnya kita bersama dan betapa lemahnya saat sendiri.
Katanya, "kalian tanpa saya tidak apa apa, tapi saya tanpa kalian bukan apa apa."
Sejujurnya, jika semua saya berkata seperti itu, maka tak ada lagi kata kalian. Karena keputusan saya saya lah tercipta kata kalian.
Hari ini, ketika pundakmu terpilih untuk menjadi ujung tombak, maka tenanglah, akan ada sisi lain yang siap membersamai pundakmu. Pundak yang juga siap mengemban amanah.
#3
#30HariBercerita
#HusnaPunyaCerita
Selasa, 07 Juni 2016
2. Dua
2.
Tak selalu satu yang dinantikan. Sesekali kita menunggu datangnya yang kedua, kesempatan contohnya. Saat yang satu terabaikan, maka yang kedua pun dinantikan.
Hari ini, Ramadhan terlihat seperti kesempatan kedua yang datang setiap tahun. Dengan doa semoga bisa lebih baik dari tahun lalu, Allah berikan kesempatan kedua untuk bertemu ramadhan lagi. Terlupa bahwa usia yang sudah menginjak puluhan berarti Allah telah berikan puluhan kali kesempatan bertemu ramadhan.
Hari ini, seorang teman bercerita.
"Ka, gue harus bisa lebih baik dari ramadhan taun lalu. Gue harus bisa khatam. Tarawih gue harus bener. Puasa gue harus 30."
Seperti ucapan adik yang dilaporkan dengan semangat ke kakak. Sambil tersenyum, saya hanya berkatam "bagus. Lu harus semangat terus. Pahala ramadhan banyak loh. Sayang kalo disia siain."
Dia mengaamiinkan lalu kami sibuk dengan aktivitas masing masing.
Kesempatan keduamu datang.
Kesempatan keduaku datang.
Kesempatan bertemu ramadhan hadir lagi.
Mungkin dulu kita, masih tenggelam dilumpur kejahiliyahan. Abai terhadap kesempatan 'bersih bersih' saat ramadhan datang.
Lalu hari ini, saat kesempatan kedua hadir, saat kesempatan keduamu tentang apapun itu telah tiba. Maka cukup. Berhentilah. Jangan mengharapkan datangnya kesempatan ketiga. Atau jangan menantikan datangnya kesempatan kedua untuk kesekian kalinya.
Sudah hari kedua ramadhan.
Sudah hari kedua Allah berikan kesempatan.
Sudah berapa juz tilawah?
Sudah berapa rakaat sunnah didirikan?
Sudah berapa ribu sedekah tersalurkan?
Semoga tetap menjadi baik.
Selalu menjadi baik.
Siap berjuang lebih baik.
#DuaRamadhan
#30HariMenulis
#HusnaPunyaCerita
Tak selalu satu yang dinantikan. Sesekali kita menunggu datangnya yang kedua, kesempatan contohnya. Saat yang satu terabaikan, maka yang kedua pun dinantikan.
Hari ini, Ramadhan terlihat seperti kesempatan kedua yang datang setiap tahun. Dengan doa semoga bisa lebih baik dari tahun lalu, Allah berikan kesempatan kedua untuk bertemu ramadhan lagi. Terlupa bahwa usia yang sudah menginjak puluhan berarti Allah telah berikan puluhan kali kesempatan bertemu ramadhan.
Hari ini, seorang teman bercerita.
"Ka, gue harus bisa lebih baik dari ramadhan taun lalu. Gue harus bisa khatam. Tarawih gue harus bener. Puasa gue harus 30."
Seperti ucapan adik yang dilaporkan dengan semangat ke kakak. Sambil tersenyum, saya hanya berkatam "bagus. Lu harus semangat terus. Pahala ramadhan banyak loh. Sayang kalo disia siain."
Dia mengaamiinkan lalu kami sibuk dengan aktivitas masing masing.
Kesempatan keduamu datang.
Kesempatan keduaku datang.
Kesempatan bertemu ramadhan hadir lagi.
Mungkin dulu kita, masih tenggelam dilumpur kejahiliyahan. Abai terhadap kesempatan 'bersih bersih' saat ramadhan datang.
Lalu hari ini, saat kesempatan kedua hadir, saat kesempatan keduamu tentang apapun itu telah tiba. Maka cukup. Berhentilah. Jangan mengharapkan datangnya kesempatan ketiga. Atau jangan menantikan datangnya kesempatan kedua untuk kesekian kalinya.
Sudah hari kedua ramadhan.
Sudah hari kedua Allah berikan kesempatan.
Sudah berapa juz tilawah?
Sudah berapa rakaat sunnah didirikan?
Sudah berapa ribu sedekah tersalurkan?
Semoga tetap menjadi baik.
Selalu menjadi baik.
Siap berjuang lebih baik.
#DuaRamadhan
#30HariMenulis
#HusnaPunyaCerita
Senin, 06 Juni 2016
1. Satu
1.
Karena sesuatu dimulai dari satu. Dari pertama. Dari awal. Dari sebuah. Toh kalaupun kamu melanjutkannya, itu tetap menjadi awal, itu tetap menjadi sebuah dan itu tetap menjadi satu yang baru.
Katanya dalam melanjutkan, tak sesulit memulai. Mendorong lemari misalnya. Tenaga awal yang dikeluarkan mungkin 75%, tapi ketika lemari telah terdorong, maka tinggal 50% tenaga yang perlu dikeluarkan.
Tapi katanya dalam melanjutkan, tidak semudah memulai. Ibadah misalnya. Mudah sekali bangun malam lalu sholat tahajud 8 rakaat ditambah witr 3 rakaat. Sangat mudah diawal. Lalu ketika diminta untuk melanjutkan seterusnya, sangat sulit.
Lalu aku bertanya, mana yang benar?
Yang pertama kah atau yang kedua?
Lalu dalam setiap hal yang kita lakukan apakah dia bernilai satu hal yang baru?
Apakah nilainya sama barunya seperti saat pertama kali melakukannya?
Tiba tiba Langit ikut campur.
Dek, jangan campur adukan segala sesuatu. Apa yang ada di bumi tak selamanya bisa disamakan. Lebih lebih kamu menyamakan urusan fisik dan urusan hati. Lain dek.
Fisik makin terbiasa saat kau beri beban berat. Tak ada urusan setan menggoda goda dalam urusan kekuatan.
Sedangkan hati makin kepayahan semakin kau latih. Lawannya bukan lagi diri, tapi setan. Tak cukup coba sekali dua kali. Minimal 40 hari tanpa henti, baru kuat kamu lawan setan.
Masih tanya mana yang benar?
Coba lihat sekarang.
Banyak orang yang puasanya full 30hari, tapi lihat mana yang kuat tarawihnya 30hari. Lihat mana yang tilawahnya 1 juz setiap hari. Mana yang sedekahnya setiap hari.
Lihat dek, bandingkan.
Satu dan sebuah memang adalah awal. Tapi yang pertama bisa saja selalu hadir, makanya ia sulit.
Karena sesuatu dimulai dari satu. Dari pertama. Dari awal. Dari sebuah. Toh kalaupun kamu melanjutkannya, itu tetap menjadi awal, itu tetap menjadi sebuah dan itu tetap menjadi satu yang baru.
Katanya dalam melanjutkan, tak sesulit memulai. Mendorong lemari misalnya. Tenaga awal yang dikeluarkan mungkin 75%, tapi ketika lemari telah terdorong, maka tinggal 50% tenaga yang perlu dikeluarkan.
Tapi katanya dalam melanjutkan, tidak semudah memulai. Ibadah misalnya. Mudah sekali bangun malam lalu sholat tahajud 8 rakaat ditambah witr 3 rakaat. Sangat mudah diawal. Lalu ketika diminta untuk melanjutkan seterusnya, sangat sulit.
Lalu aku bertanya, mana yang benar?
Yang pertama kah atau yang kedua?
Lalu dalam setiap hal yang kita lakukan apakah dia bernilai satu hal yang baru?
Apakah nilainya sama barunya seperti saat pertama kali melakukannya?
Tiba tiba Langit ikut campur.
Dek, jangan campur adukan segala sesuatu. Apa yang ada di bumi tak selamanya bisa disamakan. Lebih lebih kamu menyamakan urusan fisik dan urusan hati. Lain dek.
Fisik makin terbiasa saat kau beri beban berat. Tak ada urusan setan menggoda goda dalam urusan kekuatan.
Sedangkan hati makin kepayahan semakin kau latih. Lawannya bukan lagi diri, tapi setan. Tak cukup coba sekali dua kali. Minimal 40 hari tanpa henti, baru kuat kamu lawan setan.
Masih tanya mana yang benar?
Coba lihat sekarang.
Banyak orang yang puasanya full 30hari, tapi lihat mana yang kuat tarawihnya 30hari. Lihat mana yang tilawahnya 1 juz setiap hari. Mana yang sedekahnya setiap hari.
Lihat dek, bandingkan.
Satu dan sebuah memang adalah awal. Tapi yang pertama bisa saja selalu hadir, makanya ia sulit.
Kamis, 02 Juni 2016
Donor Darah!
Selamat menjadi pendonor!
Beberapa hari yang lalu, saat masih sibuk di dalam kelas, ada sebuah pesan di grup yang menarik perhatian.
"Yang mau donor darah ke rsg yaa."
Waah.
Dari pertama kenal donor mendonor, saya pengen banget ngedonor juga. Tapi setiap dateng ke tempat donor, selalu aja berat kurang. Ciee kurus.
Ada rasa bangga tersendiri gabisa donor karena beratnya kurang, bikin yang lain pengen~
Bertahun tahun saya datengin tempat donor darah, tapi selalu kurang beratnya. Sekalinya berat udah lewat standar minimal 45. Eh adanya kantong buat yang beratnya minimal 50.
Gak jodoh.
Bermodal nekat, akhirnya setelah kuliah saya datengin rsg. Isi data ini itu, terus masuk ruangan. Eh pas di ruangan ditanyain beratnya berapa, baru deh kepikiran buat nimbang.
Dan Alhamdulillah, beratnya cukup buat donor dan kantongnya ada buat saya hehe.
Ternyata setelah isi data, masih harus periksa darah, tensi, isi data lagi. Deg degan. Asli deg degan banget. Baru pertama ini bisa nyampe tahap itu. Pas di tes darahnya, saya udah waswas. Jadi itu darahnya diambil lewat tusukan yang tajem gitu dan itu sakit. Udah lama gak bedarah gitu. Uh, nyeri.
"Darahnya bagus kok."
Gilaaak.
Darahnya dibilang bagus.
Berarti saya lulus.
*makin panik.
Pas periksa tensi, sengaja curhat sama dokternya.
"Dok saya takut."
"Gapapa, gak sakit kok."
"Ini pertama banget nih."
"Oh disini banyak yang pertama kali ya."
"Duh dok saya deg degan."
"Santai aja. Relax."
Sambil nungguin kasur kosong, saya jalan ksana kemari. Mungkin kaya suami suami yang nungguin istrinya lahiran. Sampe akhirnya temen saya dateng, "na, jangan deg degan. Santai aja. Kalo deg degan terus tegang, nanti malah sakit loh."
Waahh makin panik deh. Ini gimana caranya biar tenang. Tarik nafas. Buang. Tarik lagi. Buang lagi.
Tenang tenang.
Istighfar banyak banyak.
"Hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenang."
Istighfar aja saya selama nunggu.
Alhamdulillah tenang. Saat akhirnya saya dapet kasur buat diambil darahnya, perasaan lebih relax. Mba mbanya kaku banget. Hehe.
Nah terus segala prosedural dilakuin sampai akhirnya darah saya ngalir ke kantong. Tadinya saya mau liat prosesnya dari awal sampe akhir, tapi kata temen jangan diliat, eh saya nurut aja hahahaha.
Mbanya berkali kali nanya, "pusing gak?" saya jawab, "engga"
Rasanya saat darah ini keluar dari badan, beeeh. Biasa aja. Gak sakit juga. Gak mendadak lemes terus pingsan juga. Bener bener biasa aja. Tinggal paniknya doang si ngeliat darah segitu banyak keluar dari tangan.
Setelah donor dan dapet ini itu, akhirnya saya mikir.
Ini saya terakhir makan kemaren siang eh sekarang udah donor darah. Sehat sehat aja lagi. Darah saya diambil sekantong, kok ya gapapa.
Saya bukan anak biologi dan terakhir belajar tentang darah itu pas SMP jadi lupa teorinya.
Terus saya mikir lagi.
Keren ya.
Saya minum teh, makan nasi, minum yogurt, susu, makan sayur ini itu, eh berubah jadi darah. Bayangin aja darah saya berkurang sekantong banyak banget itu. Tapi ternyata badan saya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus dikasih darah lagi dari orang.
Bener beneeerrr.
Allah ya.
Kita aja, ciptaannya yang kaya gini sempurna banget. Ini aja baru saya, terus gimana orang lain yang puluhan itu yang donor darah juga? Terus gimana dengan semua orang di dunia?
Gak ada orang yang kelebihan darah sampe panik terus bingung cari tempat buat donor darah.
Sama kaya gak ada orang sehat yang kekurangan darah terus cari donoran darah.
Dan gak ada juga orang yang donor darah kemudian jadi kekurangan darah.
Ah saya mah gaperlu teori ini itu, saya mah cukup satu aja, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Kalo ngomongin kehebatan Allah gak akan ada abisnya. Tapi dari kehebatan itu semua, gimana caranya kita bisa bersyukur. Kita ini sempurna loh. Bahkan manusia yang lahir tanpa tangan, tanpa kaki, mereka juga sempurna. Toh tubuh mereka dengan mudahnya mengkondisikan bagian mana yang harus kena darah, yang butuh asupan energi dll.
Saya mah makin makin makin makin ngerasa gak ada apa apanya lah ya. Jangan sampe deh nyakitin Allah biar cuma sedikit
Gak ada tuh kesalahan kecil. Nanti kalo Allah marah, abis lah saya.
Beberapa hari yang lalu, saat masih sibuk di dalam kelas, ada sebuah pesan di grup yang menarik perhatian.
"Yang mau donor darah ke rsg yaa."
Waah.
Dari pertama kenal donor mendonor, saya pengen banget ngedonor juga. Tapi setiap dateng ke tempat donor, selalu aja berat kurang. Ciee kurus.
Ada rasa bangga tersendiri gabisa donor karena beratnya kurang, bikin yang lain pengen~
Bertahun tahun saya datengin tempat donor darah, tapi selalu kurang beratnya. Sekalinya berat udah lewat standar minimal 45. Eh adanya kantong buat yang beratnya minimal 50.
Gak jodoh.
Bermodal nekat, akhirnya setelah kuliah saya datengin rsg. Isi data ini itu, terus masuk ruangan. Eh pas di ruangan ditanyain beratnya berapa, baru deh kepikiran buat nimbang.
Dan Alhamdulillah, beratnya cukup buat donor dan kantongnya ada buat saya hehe.
Ternyata setelah isi data, masih harus periksa darah, tensi, isi data lagi. Deg degan. Asli deg degan banget. Baru pertama ini bisa nyampe tahap itu. Pas di tes darahnya, saya udah waswas. Jadi itu darahnya diambil lewat tusukan yang tajem gitu dan itu sakit. Udah lama gak bedarah gitu. Uh, nyeri.
"Darahnya bagus kok."
Gilaaak.
Darahnya dibilang bagus.
Berarti saya lulus.
*makin panik.
Pas periksa tensi, sengaja curhat sama dokternya.
"Dok saya takut."
"Gapapa, gak sakit kok."
"Ini pertama banget nih."
"Oh disini banyak yang pertama kali ya."
"Duh dok saya deg degan."
"Santai aja. Relax."
Sambil nungguin kasur kosong, saya jalan ksana kemari. Mungkin kaya suami suami yang nungguin istrinya lahiran. Sampe akhirnya temen saya dateng, "na, jangan deg degan. Santai aja. Kalo deg degan terus tegang, nanti malah sakit loh."
Waahh makin panik deh. Ini gimana caranya biar tenang. Tarik nafas. Buang. Tarik lagi. Buang lagi.
Tenang tenang.
Istighfar banyak banyak.
"Hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenang."
Istighfar aja saya selama nunggu.
Alhamdulillah tenang. Saat akhirnya saya dapet kasur buat diambil darahnya, perasaan lebih relax. Mba mbanya kaku banget. Hehe.
Nah terus segala prosedural dilakuin sampai akhirnya darah saya ngalir ke kantong. Tadinya saya mau liat prosesnya dari awal sampe akhir, tapi kata temen jangan diliat, eh saya nurut aja hahahaha.
Mbanya berkali kali nanya, "pusing gak?" saya jawab, "engga"
Rasanya saat darah ini keluar dari badan, beeeh. Biasa aja. Gak sakit juga. Gak mendadak lemes terus pingsan juga. Bener bener biasa aja. Tinggal paniknya doang si ngeliat darah segitu banyak keluar dari tangan.
Setelah donor dan dapet ini itu, akhirnya saya mikir.
Ini saya terakhir makan kemaren siang eh sekarang udah donor darah. Sehat sehat aja lagi. Darah saya diambil sekantong, kok ya gapapa.
Saya bukan anak biologi dan terakhir belajar tentang darah itu pas SMP jadi lupa teorinya.
Terus saya mikir lagi.
Keren ya.
Saya minum teh, makan nasi, minum yogurt, susu, makan sayur ini itu, eh berubah jadi darah. Bayangin aja darah saya berkurang sekantong banyak banget itu. Tapi ternyata badan saya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus dikasih darah lagi dari orang.
Bener beneeerrr.
Allah ya.
Kita aja, ciptaannya yang kaya gini sempurna banget. Ini aja baru saya, terus gimana orang lain yang puluhan itu yang donor darah juga? Terus gimana dengan semua orang di dunia?
Gak ada orang yang kelebihan darah sampe panik terus bingung cari tempat buat donor darah.
Sama kaya gak ada orang sehat yang kekurangan darah terus cari donoran darah.
Dan gak ada juga orang yang donor darah kemudian jadi kekurangan darah.
Ah saya mah gaperlu teori ini itu, saya mah cukup satu aja, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Kalo ngomongin kehebatan Allah gak akan ada abisnya. Tapi dari kehebatan itu semua, gimana caranya kita bisa bersyukur. Kita ini sempurna loh. Bahkan manusia yang lahir tanpa tangan, tanpa kaki, mereka juga sempurna. Toh tubuh mereka dengan mudahnya mengkondisikan bagian mana yang harus kena darah, yang butuh asupan energi dll.
Saya mah makin makin makin makin ngerasa gak ada apa apanya lah ya. Jangan sampe deh nyakitin Allah biar cuma sedikit
Gak ada tuh kesalahan kecil. Nanti kalo Allah marah, abis lah saya.
Langganan:
Postingan (Atom)